2018 Bisa Menjadi Tahunnya Film Indonesia

Ringgo sedang menceritakan perannya sebagai Abah dalam jumpa pers Keluarga Cemara, di kawasan Gunawarman, Jakarta Selatan, 4 Januari 2018. 


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Boleh dibanggakan, dewasa ini industri perfilman Indonesia sudah makin berkembang dari masa ke masa. Perkembangan ini dinilai cukup konsisten bila dilihat dari jumlah penonton yang terdata di tahun 2016 sampai 2017.

Selama kurun waktu tiga tahun terakhir, jumlah penonton film Indonesia terus meningkat. Data jumlah penonton film Indonesia tahun 2015 mencapai 16,2 juta. Angka ini meningkat lebih dari seratus persen di tahun 2016, penonton film Indonesia mencapai 34,5 juta penonton. Di tahun yang baru saja kita lewati, yakni tahun 2017 penonton film nasional meningkat lagi menjadi 40,5 juta.

Bagi poduser film dan pengusaha bioskop kondisi ini merupakan masa yang membahagiakan mereka. Bagaimana tidak, dengan meningkatnya jumlah penonton film Indonesia bukan semata-mata banyaknya uang mengalir ke pundi-pundi mereka. Indikasi lain adalah makin cintanya masayarakat Indonesia kepada film produksi buatan anak bangsa.

Menurut Sutradara Eugene Panji, secara tertulis Indonesia sudah mampu menjadi rumah bagi film-film lokal. Tetapi, secara medium tayangnya belum. Karena Indonesia belum memiliki ruang yang sama dengan film-film Hollywood. Maka diperlukannya regulasi yang tepat dari pemerintah, dalam pembagian ruang tayang film lokal dan internasional.

“Film Hollywood, dalam perspektif ruang tayang masih mendominasi. Seharusnya ada aturan main dengan lembaga negara dan pelaku industri. Seperti, berapa persentase pembagian dari bioskop untuk menayangkan film Indonesia dan luar negeri? Kemudian, jika kita memiliki regulasi yang baik untuk film lokal, tentu akan membantu para pekerja film. Menurut saya, kalau hal ini tidak digarap secara serius, maka pelaku film lokal akan mati,” jelasnya.

Sutradara sekaligus aktor Indonesia, Ernest Prakasa mengakui bahwa kini industri film di Indonesia kian meningkat dari tahun ke tahun. Namun, ini adalah bukan kebangkitan film Indonesia. Dikatakannya, film Indonesia telah bangkit dari beberapa tahun silam. “Pencapaian ini merupakan hasil dari konsistensi kita semua,” terangnya.

Meski demikian, masih banyak hal yang perlu dibenahi, agar industri ini tetap bsa berjalan dengan konsisten. Ia menyebutkan salah satu yang terpenting adalah, jumlah layar yang harus terus ditambah. Ernest mengatakan bahwa, dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam, jumlah penduduk dibandingkan jumlah layar di Indonesia berbanding jauh.

“Jadi, ada banyak sekali kota yang tidak ada bioskopnya. Tetapi peran pemerintah juga cukup signifikan. Karena dua tahun lalu, Pak Jokowi juga telah menghapus bioskop dari daftar negatif investasi. Jadinya, investor luar boleh masuk dan membangun bisokop di Indonesia. Hal ini merupakan langkah yang baik bagi industri film Indonesia,” terangnya.

Selain itu, Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia, Djonny Syafruddin mengatakan bahwa penyebaran layar bioskop yang tidak merata mempersempit akses masyarakat untuk menonton film nasional. Keterlibatan negara dibutuhkan untuk membenahi ekosistem perfilman nasional.

“Jadi bagaimana pemerintah bisa memperluas pasar atau layar di Indonesia. Caranya? Panggil investor lokal dengan memberikan kemudahan dana dengan bunga yang murah, atau memberikan kredit seperti UMKM kepada pengusaha daerah. Sehingga, pengusaha daerah bisa berani membuat bioskop. Karena satu layarnya saja bisa lebih dari Rp 2,5 milar. Tolong bina di sini, jangan fokus ke produksi terus,” tuturnya.

Meningkatnya minat penonton film Indonesia, dan tumbuhnya perusahaan–perusahaan film baru tentunya membutuhkan layar lebih banyak lagi. Bagi Djonny, jumlah layar yang sekarang ini jumlahnya 1.500 layar di seluruh Indonesia, idealnya harus ditambah sekitar 500 layar. Menurutnya, hal ini baru terserap 10 persen dari total yang jumlah kebutuhan ideal.

“Masih terdapat lima provinsi yakni Aceh, Kalimantan Utara, Maluku Utara, Papua Barat dan Sulawesi Barat bahkan belum punya bioskop sama sekali. Dua tahun lagi, target kita menambahkan 500 layar,” terangnya.

Hal ini semakin diperkuat dengan pendapat sutradara asal Indonesia yang tengah menetap di Amerika, Livi Zheng yang mengatakan bahwa, kenapa film-film Amerika bisa sukses di dalam ataupun di negeri orang. Ia menyertakan data bahwa, Amerika memiliki jumlah penduduk: 320 juta jiwa dan memiliki jumlah layar sekitar 40.759. Sedangkan Korea, jumlah penduduk hanya 51,3 juta jiwa dengan jumlah layar yang lebih besar dari Indonesia, yaitu sekitar 1.880.

“Alasannya Hollywood memiliki banyak layar. Banyak sekali bioskop meskipun tidak di tengah kota. Maka dari itu industrinya terus berkembang pesat. Jika banyak layar, semakin banyak sineas yang membuat film, semakin bagus film yang dibuat,” ungkapnya.

Berbeda dengan pendapat di atas, produser Mira Lesmana dan sutradara Joko Anwar pun memiliki pendapat yang senada. Menurut mereka, hal yang terpenting yang harus dibenahi adalah bagaimana membuat SDM yang berkecimpung di dunia perfilman itu memiliki pendidikan

“Kalau menurut saya yang terpenting untuk ditingkatkan adalah pendidikan film. Kalau SDM kita tidak ikut meningkat, baik tingkat pendidikannya maupun jumlah profesionalisme-nya, pertumbuhan akan tersendat,” ungkap Mira Lesmana. (sd)
Labels: Gaya Hidup

Thanks for reading2018 Bisa Menjadi Tahunnya Film Indonesia. Please share...!

Back To Top