Maret 2018, Jatim Mengalami Inflasi Sebesar 0,06 Persen

Teguh Pramono, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur

SURABAYA (IndonesiaTerkini.com)- Pada Maret 2018 Jawa Timur (Jatim) mengalami inflasi sebesar 0,06 persen. Enam kota mengalami inflasi dan dua kota mengalami deflasi. Inflasi tertiggi di Malang dan Banyuwangi yang masing-masing sebesar 0,12 persen, sedangkan Probolinggo dan Jember mengalami deflasi sebesar 0,13 persen dan 0,08 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono, mengungkapkan besarnya inflasi tersebut dipicu naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan masih tingginya harga bawang putih. Inflasi pada Maret 2018 ini lebih tinggi jika dibanding tahun 2017 pada periode yang sama, dimana pada Maret 2017 mengalami deflasi sebesar 0,09 persen.

“Tiga komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi di bulan Maret 2018 adalah bawang putih, bensin, dan bawang merah. Pasokan bawang putih yang masih belum dapat mengimbangi banyaknya permintaan di pasaran membuat harga bawang putih mengalami kenaikan. Minimnya realisasi impor bawang putih yang dilakukan pemerintah juga belum mampu menekan harga di pasar,” terang Teguh Pramono di kantornya, Senin (2/4/2018).

Selain itu, menurut Teguh, kebijakan Pertamina untuk menaikkan harga BBM non subsidi jenis pertalite sebesar Rp200 per liter terhitung mulai 24 Maret 2018 juga turut menjadi penyumbang utama terjadi inflasi di bulan Maret. Sementara bawang merah juga mengalami kenaikan harga akibat cuaca buruk yang mengakibatkan terjadinya gagal panen di beberapa daerah sentra bawang merah.

“Walaupun beberapa komoditas tercatat mengalami kenaikan, tetapi ada beberapa komoditas lain yabg justru mengalami penurunan harga dan menjadi penghambat terjadinya inflasi di bulan Maret 2018. Tiga komoditas utama yang menghambat terjadinya inflasi ialah beras, telur ayam ras, dan wortel,” ujarnya.

Harga beras di pasar bulan Maret 2018, lanjut Teguh, berangsur-angsur mengalami penurunan, hal ini disebabkan telah masuknya beras hasil panen di beberapa daerah penghasil beras. Harga telur ayam ras dan wortel terpantau turun sejak bulan Februari 2018 kemarin, hal menyebabkan telur dan wortel menjadi dua komoditas utama yang menghambat inflasi selama dua bulan berturut-turut. Komoditas lain yang menjadi penghambat inflasi ialah tomat sayur, kentang, kacang panjang, udang basah, jeruk,daging ayam ras, dan cumi-cumi.

“Dari pantauan BPS Jatim selama bulan Maret 2018, enam kelompok pengeluaran mengalami inflasi dan satu kelompok mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok Transporasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 0,33 persen, diikuti kelompok Sandang sebesar 0,27 persen, kelompok Kesehatan 0,14 persen, kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar 0,08 persen, kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau 0,05 persen, dan kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olah ragasebesar 0,02. Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok Bahan Makanan sebesar 0,24 persen,” urainya.

Kondisi inflasi ini menurut Teguh terjadi di enam kota yang menjadi acuan IHK, sentara dua kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Malang dan Banyuwangi yang masing-masing sebesar 0,12 persen, sedangkan Probolinggo dan Jember mengalami deflasi sebesar 0,13 persen dan 0,08 persen.

“Untuk tingkat Inflasi tahun kalender Januari hingga Maret 2018 di Jawa Timur mencapai 0,82 persen sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun atau year on year dari Maret 2018 terhadap Maret 2017 mencapai 3,16 persen,” tutupnya. (dri)
Labels: Ekonomi

Thanks for reading Maret 2018, Jatim Mengalami Inflasi Sebesar 0,06 Persen. Please share...!

Back To Top