Teknologi BlockChain Diyakini Bisa Dorong Kinerja Perpajakan

Konferensi pers penggunaan teknologi blockchain dalam aplikasi OnlinePajak, di Jakarta, 27 April 2018


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Pada 2017 lalu, tax ratio atau rasio pajak Indonesia mencapai titik terendah di bawah 10 persen. Padahal jika dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan Asean, tax ratio-nya sudah mencapai 14-16 persen.

Pengamat perpajakan Yustinus Prastowo mengungkapkan, rendahnya tax ratio di Indonesia dikarenakan masih adanya keraguan para wajib pajak perihal transparansi penggunaan uang pajak yang dibayarkan. Ditambah lagi dengan proses pembayaran pajak yang dianggap sering menyulitkan.

"Masalahnya itu ada di trust. Pajak kan bisnis kepercayaan. Kalau percaya uang yang dibayarkan itu digunakan dengan benar, pasti akan bayar (pajak). Sekarang ini penggunaan uang pajak sebenarnya sudah jauh lebih baik. Tetapi memang masih ada yang beberapa hal yang perlu diperbaiki," kata Yustinus Prastowo, di Jakarta, Jumat (27/4/2018).

Yustinus menambahkan, membangun sistem perpajakan yang baik dan efektif harus menganut prinsip administrasi yang baik, seperti mudah dan pasti. Teknologi blockchain yang saat ini digunakan aplikasi OnlinePajak menurutnya juga bisa menjadi solusi untuk mendorong kinerja perpajakan Indonesia. Melalui teknologi ini, wajib pajak dapat melalui proses pengelolaan pajak yang lebih sederhana, namun tetap akurat, aman, cepat, dan transparan.

"Teknologi informasi adalah salah satu pilar dalam reformasi perpajakan. Saya optimistis bahwa teknologi blockchain mampu mendorong kinerja perpajakan Indonesia, terutama upaya pemerintah dalam optimalisasi penerimaan perpajakan melalui sistem yang lebih akurat dan transparan," imbuhnya.(ym)
Labels: Ekonomi

Thanks for reading Teknologi BlockChain Diyakini Bisa Dorong Kinerja Perpajakan. Please share...!

Back To Top