Cendekia Kelas Dunia Hadir ke UNAIR

Cendekia Kelas Dunia hadir ke UNAIR


SURABAYA (IndonesiaTerkini.com)- Universitas Airlangga menjadi salah satu perguruan tinggi tujuan diaspora Kemenristek-Dikti. Ada dua diaspora yang datang ke UNAIR untuk sharing dan berbagai informasi seputar riset dan pendidikan tinggi bertajuk ‘Simposium Cendekia Kelas Dunia Tahun 2018’. Keduanya adalah Deden Rukmana dan Cortino Sukotjo. Dua peneliti asal Indonesia itu telah berkiprah di level internasional.

Perihal simposium yang menghadirkan cendekia kelas dunia itu, Rektor UNAIR Prof. Moh. Nasih mengatakan, Indonesia memiliki ahli dan ekspert yang sekarang banyak berkontribusi di luar negeri, terutama di negara maju. Kemudian, Kemenristek-Dikti memiliki inisiatif pada diaspora agar berkontribusi untuk bangsa dan negara. UNAIR menjadi salah satu jujugan para diaspora. Ini kesempatan baik bagi UNAIR.

"Kami ingin mereka berkontribusi untuk kampus melalui berbagai macam program, seperti join riset, memberi pelatihan untuk dosen dan juga mahasiswa. Hal ini kita harapkan mempersempit gap (jarak) pendidikan antara Indonesia dengan perguruan tinggi luar negeri," ujarnya.

Ditambahkannya, salah satu yang UNAIR lakukan adalah kerjasama dengan FKG sudah. Dengan Deden Rukmana juga sudah menyiapkan kolaborasi riset, yaitu terkait dengan urban histori. Ada beberapa proposal yang bisa kita siapkan untuk melakukan riset bersama.

Deden Rukmana mengatakan, pemerintah ingin merangkul potensi diaspora untuk bersinergi dengan mitra dalam negeri. Untuk bisa maju, kita tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan sendiri, harus memanfaatkan network dan menggandeng mitra untuk kerjasama. Salah satunya dengan diaspora.

"Pemerintah ingin mengkoneksikan kedua belah pihak, antara diaspora di luar negeri dengan kebutuhan dosen dan mahasiswa dalam negeri. Fokusnya pada pengembangan kapasitas dosen dan peneliti di Indonesia. Seperti, melakukan riset dan publikasi di jurnal internasional yang bereputasi," lanjutnya.

Menurutnya, tiga tahun ini jumlah publiksi yang terindeks Scopus semula Indonesia di bawah Thailand. Sekarang sudah di atas Thailand. Berikutnya, kita kejar Malaysia atau Singapura. Saya amati tiga tahun terakhir terlihat semangat teman-teman Indonesia melakukan publikasi. Teknisnya kerjasama ini, kita buat koneksi terlebih dahulu. Setelah koneksi terbentuk, kita follow-up. Impact dari pertemuan ini adalah long process, tidak hanya akan terlihat satu-dua bulan. "Kerjasama ini bukan hanya untuk dosen, tapi juga mahasiswa S2 maupun S3 yang ingin mengembangkan riset," katanya.

Sementara itu, Cortino Sukotjo mengatakan, Diaspora bukan hanya dikirim di kampus di Jawa, tapi juga luar Jawa. "Peneliti Indonesia sebetulnya sudah mampu jika dibandingkan dengan peneliti luar negeri dari kampus ternama. Hanya saja, belum tahu jalannya seperti apa," tegasnya. (dri)
Labels: Pendidikan

Thanks for reading Cendekia Kelas Dunia Hadir ke UNAIR. Please share...!

Back To Top