60% Industri Mamin Masih Berkutat di Sistem Industri 3.0

Adhi S Lukman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia dan Puspo Edi Giriwono, Executive Secretary SEAFAST Center IPB (tengah) didampingi Rungphech Chitanuwat, Group Director ASEAN UBM Asia Co Ltd (paling kiri) tengah membahas ekstrak makanan, saat konferensi pers penyelenggaraan Food ingredients (Fi) Asia 2018 di Jakarta (27/9/2018)


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Ketika seluruh industri tengah diarahkan pemerintah untuk menerapkan sistem dan standar industry 4.0 yang berbasiskan pada kekuatan internet of things, sebanyak 60% pelaku industri makanan dan minuman (Mamin) di dalam negeri  masih berkutat menggunakan sistem kerja industry 3.0. Sementara sebagian besar indusri makanan dan minuman skala kecil menengah masih berkutat pada standar kerja sistem industry 2.0

Disampaikan Adhi S Lukman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), sistem dan standar Industry 4.0 untuk industri makanan dan minuman, akan berbasiskan pada jejaring dan big data, memungkinkan ketersediaan informasi akurat terkait demand dan skala produk makanan dan minuman di masyarakat.

“Sehingga produsen bisa menciptakan produk yang sesuai dengan selera satu masyarakat di kawasan tertentu, sekaligus bisa mencapai skala keekonomian, tanpa harus ada produk yang terbuang,” ujar Adhi, saat berbicara di ajang konferensi pers penyelenggaraan Food ingredients Asia (Fi Asia) 2018 di Jakarta (27/9/2018). Dengan sistem Industry 4.0, kini produsen telah mampu menghadirkan produk yang sesuai dengan selera masyarakat tertentu, dengan skala keekonomian yang baik serta kompetitif.

Sejauh ini pelaku industri-industri besar yang sudah mencoba menerapkan sistem Industry 4.0, belum menerapkan sepenuhnya pada seluruh mekanisme bisnisnya. “Sebagian dari mereka baru bisa menerapkan sistem Industry 4.0 di sejumlah bagian saja, misalnya pada bagian sales saja, atau produksi,” kata Adhi.

Sejatinya para pelaku industri yang masih berkutat pada sistem Industry 3.0 tak berarti tak memiliki daya saing. Revolusi Industry 3.0 sendiri dimulai dengan penggunaan daya dukung elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Sistem otomatisasi berbasis komputer ini membuat mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia. Dampaknya tentu biaya produksi menjadi lebih murah.

Sementara terkait ajang gelaran Pameran niaga bahan baku makanan dan minuman Food ingredients (Fi) Asia 2018 yang akan digelar di Indonesia pada 3-5 Oktober 2018 di JIExpo Kemayoran Jakarta, Adhi mengatakan ajang ini merupakan platform bagi ribuan penjual dan pembeli bahan baku makanan dan minuman serta menjadi arena untuk menampilkan inovasi terkini, mendapatkan mitra potensial, melakukan penetrasi pasar Asia, dan peroleh informasi perkembangan terkini di industri bahan baku makanan dan minuman.

Fi Asia 2018, kata Adhi, menjadi platform yang tepat dan komprehensif untuk berbagai skala bisnis dalam meningkatkan dan memperkuat keberadaan pelaku industri di kawasan ASEAN guna mendorong kesuksesan bisnis. Kelak, Indonesia tidak hanya menyerap komoditi asing, akan tetapi mampu memproduksi makanan dan minuman olahan yang inovatif dengan biaya efisien.

Sementara itu dalam kesempatan sama, Puspo Edi Giriwono, Executive Secretary South East Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST Center) IPB menjelaskan, Industri makanan dan minuman yang diproyeksi terus berkembang dengan pesat untuk 5-10 tahun mendatang tentu tidak terlepas dari peranan industri bahan baku makanan dan minuman. Dengan kekayaan alam melimpah yang dapat menghasilkan bahan baku khas tanah air dan didukung dengan penelitian yang memadai, Indonesia berpotensi memperkuat daya saing di pasar regional maupun global.

“Kami menilai Fi Asia akan memberikan akses inovasi dan kemajuan teknologi bahan baku makanan dan minuman dari seluruh dunia sehingga menjadi referensi utama bagi para profesional industri ini,” ujar Puspo Edi. (sd)
Labels: Ekonomi

Thanks for reading 60% Industri Mamin Masih Berkutat di Sistem Industri 3.0. Please share...!

Back To Top