OJK: Edukasi Keuangan Semakin Membaik

Deputi Komisioner bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK (tengah) didampingi Nini Sumohandoyo (Direktur Komunikasi dan Marketing PT Prudential Life Assurance) dan Eko Ariantoro (Direktur Pengembangan Inklusi Keuangan OJK/Ketua Panitia FinExpo & SunDown Run 2018) saat menjelaskan kegiatan edukasi keuangan dan program tersebut


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Deputi Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sarjito menilai edukasi keuangan dan perlindungan konsumen saat ini semakin membaik. Di sisi lain, peran OJK  pun semakin signifikan dalam perlindungan konsumen. Ia menggambarkan kian banyak pelaku usaha jasa keuangan (PUJK) yang ingin menjual produknya. Tapi sebagai regulator, OJK memastikan PUJK tersebut memperkenalkan produk dan menjual produk termasuk cara menjualnya harus mengikuti ketentuan yang berlaku.

"Dalam artian harus ada sense bahwa konsumen itu dilindungi,” ujarnya dalam Media Gathering FinExpo dan SunDown Run 2018 di Jakarta (25/10/2018).

Sarjito menjelaskan, kepedulian terhadap edukasi dan perlindungan konsumen tersebut dikuatkan dengan adanya Anggota Dewan Komisioner yang disebut secara khusus dalam UU OJK untuk menjalankan tugas edukasi dan perlindungan konsumen.

Diakuinya, kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan yang terjadi di Indonesia menjadi salah satu tantangan bagi PUJK dan OJK. Kesenjangan tersebut, menurut Sarjito kerapkali melahirkan sengketa antara konsumen (nasabah) dengan PUJK. Seringkali, konsumen tidak membaca catatan atau ketentuan-ketentuan mengenai produk atau kurang memahami apa yang dibelinya lantas mengadukan persoalan tersebut kepada regulator. Penyelesaian sengketa tersebut bisa dilakukan kedua belah pihak, tapi bila tidak selesai, kata Sarjito, bisa menempuh eksternal despute resolution, baik di perbankan, pasar modal, dan jasa keuangan lainnya.

"Hal itu nanti akan kita integrasikan (penyelesaiannya), sehingga efisien. Kita juga butuh mediator yang keren dan paham mengenai hal tersebut,” ujarnya.

Kesenjangan literasi dan inklusi juga kerap menimbulkan korban penipuan investasi bodong di masyarakat. Menurut Sarjito, hal tersebut terkait dengan literasi dan emosi atau ekspektasi seseorang. Ia mengingatkan, setiap ada penawaran investasi yang tinggi, perlu ditanyakan, 'this is too good to be true? Ada baiknya juga membandingkan dengan hasil investasi (return on investment) dari produk-produk jasa keuangan yang lain, baik yang konvensional seperti deposito maupun saham.

Direktur Pengembangan Inklusi Keuangan OJK yang juga sebagai Ketua Panitia FinExpo 2018 Eko Ariantoro menuturkan, memang terjadi kesenjangan yang cukup besar antara literasi dan inklusi keuangan. Idealnya angka dari keduanya sama. Dalam catatan OJK, berdasarkan survei tahun 2016 angka literasi keuangan 29,7% dan angka inklusi keuangan 67,8%. Untuk mendekatkan kesenjangan tersebut, OJK melakukan dua pendekatan yakni regulatory based dan program based. Terkait regulatory based, sejak 2013 OJK sudah mengeluarkan peraturan, terakhir tahun 2017 OJK mengeluarkan POJK Nomor 76, dimana dalam ketentuan tersebut OJK bersama PUJK melakukan kegiatan literasi dan inklusi minimal sekali dalam setahun. Dengan mengikuti ekspo semacam ini, minimal satu menunaikan kewajiban literasi dan inklusi.

Kemudian yang program based dilakukan formal maupun informal. Yang formal dilakukan melalui kegiatan yang sifatnya kurikulum. OJK sudah bekerja sama dengan Kemendikbud dan Dikti sudah mengeluarkan kurikulum edukasi keuangan untuk SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Sementara untuk yang non formal dilakukan melalui media sosial, komunitas, ibu bayangkara, dll.

Financial Institution Expo (FinExpo) dan SunDown Run 2018 merupakan puncak dari bulan inklusi keuangan yang dilaksanakan setiap bulan Oktober. Pada gelaran tahun ini, tagline yang dikemukan yakni Semua Inklusi, Perlindungan Pasti. Rangkaian program ini terdiri dari peluncuran produk atau program inklusi keuangan, awarding, kegiatan pameran, kids activities dalam rangka Simpel Day, dan kompetisi lari santari yang dilakukan di Epiwalk, kawasan Epicentrum Jakarta. Ada empat program yang bakal dikenalkan pada puncak acara tersebut pada 27 Oktober nanti yakni, Kampanye Simpanan Pelajar (SimPel dan SimPel iB) Goes to School, Simpanan Mahasiswa dan Pemuda (SiMuda), Reksa Dana Syariahku (SAKU), dan Reksa Dana Mini Mart. Ditargetkan ada 10 ribu pengunjung yang menghadiri acara tersebut. (sd)
Labels: Ekonomi

Thanks for reading OJK: Edukasi Keuangan Semakin Membaik. Please share...!

Back To Top