September 2018, Jawa Timur Mengalami Deflasi Sebesar 0,01 Persen

(Kiri) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono 


SURABAYA (IndonesiaTerkini.com)- September 2018 di 8 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) Jawa Timur menunjukkan adanya penurunan harga di sebagian besar komoditas yang dipantau. Hal ini mendorong terjadi penurunan IHK mengalami deflasi sebesar 0,01 persen yaitu dari 132,42 pada bulan Agustus 2018 menjadi 132,41 pada bulan September 2018.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Teguh Pramono mengatakan, Inflasi September 2018 tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun 2017 karena pada bulan September 2017 mengalami inflasi sebesar 0,19 persen.

"Apabila dilihat trend musiman setiap bulan September selama sepuluh tahun terakhir (2009- 2018) telah terjadi delapan kali inflasi dan dua kali deflasi. Bulan September 2009 merupakan inflasi tertinggi yaitu sebesar 1,20 persen, sedangkan deflasi terendah pada bulan September 2013 sebesar 0,23 persen,” ujarnya, Senin (1/10/2018).

Menurutnya, penghitungan angka inflasi di 8 kota IHK di Jawa Timur selama September 2018, tiga kota mengalami inflasi dan lima kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kediri yang mencapai 0,20 persen, diikuti Surabaya 0,15 persen, dan Sumenep sebesar 0,02 persen. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Banyuwangi sebesar 0,49 persen, diikuti Probolinggo 0,32 persen, Malang 0,31 persen, Madiun  0,12 persen, dan Jember sebesar 0,05 persen.

"Dari tujuh kelompok pengeluaran, lima kelompok mengalami infasi, dan dua kelompok mengalami deflasi. Kelompok yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olah raga sebesar 1,02 persen, sedangkan kelompok yang mengalami deflasi tertinggi adalah kelompok kelompok Bahan Makanan sebesar 0,87 persen," lanjutnya.

Komoditas utama yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Jawa Timur pada bulan September 2018 ialah biaya akademi/perguruan tinggi, jeruk, dan pepaya. Sedangkan komoditas yang memberikan andil terbesar deflasi daging ayam ras, tarif angkutan udara, dan telur ayam ras.

"Laju inflasi tahun kalender Jawa Timur di September 2018 mencapai 1,78 persen, sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2018 terhadap September 2017) mencapai 2,75 persen. Pada September 2018 kelompok inti mengalami inflasi sebesar 0,31 persen, komponen yang diatur pemerintah mengalami deflasi 0,13 persen, sedangkan komponen bergejolak juga deflasi sebesar 0,97 persen," tutupnya. (dri)
Labels: Ekonomi

Thanks for reading September 2018, Jawa Timur Mengalami Deflasi Sebesar 0,01 Persen. Please share...!

Back To Top