Iklan dan Cukai Penyebab Makin Banyak Perokok Anak di Indonesia

TCSC IAKMI Jawa Timur di acara Media Brefing Hari Kesehatan Nasional di Surabaya, Minggu (11/11/2018)

SURABAYA (IndonesiaTerkini.com)- Jumlah perokok anak di Indonesia terus mengalami peningkatan, sama halnya jumlah perokok dewasa. Beberapa faktor penyebab kegagalan pemerintah menekan jumlah perokok anak itu di antaranya karena cukai rokok batal dinaikkan dan semakin semaraknya iklan rokok.

Pelaksana Bidang Advokasi LPA Jatim, Priyono Adi Nugroho, mengatakan, tidak dinaikkannya cukai rokok membuat harga rokok tidak naik hingga masih terjangkau anak-anak. Ini membahayakan anak, karena mereka dapat membelinya.

"Di samping akibat cukai rokok yang batal dinaikkan hingga menyebabkan jumlah perokok anak di Indonesia makin bertambah. Longgarnya peraturan pemerintah tentang iklan rokok juga menjadi salah satu faktor pemicu," ujarnya di Surabaya, Minggu (11/11/2018).

Sementara itu, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya, Ilham Akhsanu Ridlo menambahkan, iklan rokok salah satu pemicu tingginya perokok anak. Ilham mengaku telah melakukan penelitian soal iklan rokok di Surabaya. Menurutnya, iklan rokok di Surabaya terlalu banyak, terutama di Surabaya Pusat dan Surabaya Selatan.

“Di Surabaya Selatan ada 87 titik reklame, di Surabaya Pusat ada 71 titik reklame. Ini dipasang ditempat umum. Lebih mencemaskannya lagi, Iklan rokok juga banyak ditemukan di sejumlah tempat pusat kegiatan anak yang seharusnya bebas dari pengaruh rokok, yakni di sekolah, pondok pesantren, dan layanan kesehatan masyarakat," lanjutnya.

Berdasarkan data dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur menyebutkan, di tahun 2018 ini jumlah perokok anak meningkat 9,1 persen dari tahun 2012. Di tahun 2012, jumlah perokok anak di bawah 10 tahun sudah sekitar 239.000 anak, dan anak usia 10 tahun hingga 14 tahun ada sekitar 1,2 juta anak. (dri)
Labels: Kesehatan

Thanks for reading Iklan dan Cukai Penyebab Makin Banyak Perokok Anak di Indonesia. Please share...!

Back To Top