Melia Hotels Internasional Terus Kembangkan Pendekatan Go Green dalam Memerangi Perubahan Iklim

Melia Hotels Internasional (Foto: istimewa)


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Perhotelan telah menjadi salah satu industri yang paling cepat berkembang di Indonesia, didorong oleh industri pariwisata tanah air yang semakin meluas secara domestik dan global dengan pembukaan hotel baru setiap tahunnya. Pada Februari 2017 Indonesia menempati posisi ke-dua di Asia Pasifik sebagai negara dengan perkembangan hotel paling banyak, dan menurut riset global STR akan memiliki tambahan sebanyak 300 properti dengan 55,000 kamar baru dalam pasar. Dua destinasi pariwisata paling berkembang di Indonesia yaitu Jakarta dan Bali diprediksi telah memiliki tambahan sebanyak 2,488 dan 2,530 kamar baru pada tahun 2018, sesuai dengan laporan dari Collliers International pada kuartal pertama 2018.

Meski demikian, seiring dengan pertumbuhan dan potensi dari industri perhotelan di Indonesia maka jumlah limbah dan sampah yang dihasilkan juga bertambah, menyebabkan dampak lingkungan yang dapat dirasakan secara nyata. Salah satu bentuk limbah yang paling umum dihasilkan dari industri pariwisata adalah sampah sabun dan pastik, seringkali ditemukan lewat perlengkapan mandi yang disediakan oleh hotel.

Menurut Diversey, salah satu pelopor dalam teknologi kebersihan dan sanitasi, setiap tahunnya sebuah hotel dengan 400 kamar akan memproduksi sebanyak 3,5 ton limbah sabun. Sementara itu, Ocean Conservative Report yang diterbitkan pada tahun 2017 juga menemukan bahwa Indonesia, China, Filipina, Thailand dan Vietnam membuang lebih banyak plastik ke lautan dari daratan, dari gabungan seluruh dunia.

Sebagai salah satu perusahaan hotel terbesar dari Spanyol, saat ini Meliá Hotels International memiliki 8 properti dengan total 1,847 kamar di Indonesia, yang secara keseluruhan menghasilkan sekitar 22 kilo limbah sabun setiap harinya, dengan tambahan pengeluaran biaya dan tenaga untuk transportasi dan pembuangan limbah tersebut. Sebagai respon dari isu lingkungan yang kritis ini, perusahaan telah menerapkan berbagai upaya untuk mengurangi limbah sabun dan plastik yang dihasilkan oleh properti mereka.

Salah satunya adalah program Soap for Hope yang berkolaborasi dengan Diversey, di mana proyek ini pertama kali diinisiasi di berbagai properti Meliá hotels di seluruh dunia, termasuk Meliá Purosani di Yogyakarta pada akhir tahun 2017 lalu. Program ini mengajak staf dan para tamu hotel untuk mendaur sabun yang tersisa menjadi sabun baru, yang kemudian didistribusikan kepada komunitas lokal serta dijual sebagai suvenir di mana pendapatannya akan didonasikan untuk kegiatan dan yayasan sosial. Sampai hari ini, sebanyak 7 properti Meliá terlibat aktif dalam program ini dan telah menghasilkan sebanyak lebih dari 110,800 batang sabun dari 13,3 ton limbah, membuat jumlah penerima manfaat melebihi 9.800 orang.

“Program Soap for Hope menggambarkan nilai yang kami junjung untuk perubahan dan perkembangan lingkungan, terlebih lagi setelah properti kami menerima EarthCheck Gold Certification, salah satu klasifikasi hotel kelas dunia. Selain itu, Meliá Purosani juga telah memenangkan Green Hotel Award 2017 dari Kementerian Pariwisata dan ASEAN Green Hotel Standard 2018, sehingga ini semakin memperkuat komitmen kami dalam pendekatan ramah lingkungan dan berkelanjutan," jelas Jeronimo Molina, General Manager Meliá Purosani.

Terlebih lagi, pada tahun 2017 sebanyak lebih dari 22 juta limbah botol plastik telah dihasilkan oleh properti Meliá di seluruh dunia. Sebagai upaya menanggapi masalah ini, Meliá Hotels International baru-baru ini mengumumkan bahwa perusahaan akan menghilangkan semua plastik sekali pakai termasuk botol plastik, cangkir, sedotan, kantong, dan alas piring serta menggantikannya dengan bahan biodegradable atau alternatif ramah lingkungan pada akhir 2018, menghemat lebih dari 15 ton emisi karbon dioksida yang disebabkan oleh pembuangan limbah setiap tahun. Sebagai hasilnya, ini akan secara signifikan mengurangi polusi plastik perusahaan, serta meningkatkan kesadaran akan masalah lingkungan di antara 30 juta tamu yang diterima perusahaan setiap tahunnya.

Dalam kasus tertentu seperti Meliá Bali, setiap tahun hotel ini menggunakan 319.250 sedotan plastik, yang setara dengan 638 kilogram plastik. Sebagai hotel pertama di Asia yang disertifikasi sebagai EarthCheck Master, Meliá Bali berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan dan telah memulai tindakan untuk menghilangkan plastik sekali pakai.

Gabriel Escarrer, Executive Vice President dan CEO Meliá Hotels International menyatakan, perusahaan yakin industri ini memiliki peran mendasar dalam berkontribusi terhadap Sustainable Development Goals oleh PBB. “Pengalaman tamu yang luar biasa harus disertai juga dengan rasa hormat terhadap planet ini, dan polusi plastik adalah tantangan global yang mempengaruhi semua tujuan dan bisnis pariwisata yang bergantung pada keberlanjutan area tersebut. Kami telah menerapkan keberlanjutan dalam strategi pengembangan perusahaan, dan grup kami telah digolongkan sebagai perusahaan hotel paling berkelanjutan peringkat ke-tiga di seluruh dunia (2018) oleh RobecoSAM baru-baru ini. Saya sangat senang dengan evaluasi yang sangat baik dari kinerja lingkungan dan upaya kami, dan kami akan terus bekerja keras dalam menangani masalah ini sebagai perusahaan hotel internasional terkemuka. Sebagai sebuah industri, kita harus terlibat secara kolektif dan bekerja sama dalam memerangi perubahan iklim dan tantangan global besar lainnya,” ujar Gabriel.

Meliá Hotels International juga telah mengambil upaya lebih lanjut dalam memerangi perubahan iklim dengan menunjukkan komitmen perusahaan kepada Paris Climate Summit, dan telah dinamakan sebagai salah satu perusahaan terdepan di dunia dalam memerangi perubahan iklim oleh “Carbon Disclosure Project”. (sd)
Labels: CSR

Thanks for reading Melia Hotels Internasional Terus Kembangkan Pendekatan Go Green dalam Memerangi Perubahan Iklim. Please share...!

Back To Top