Jika Tarif Ojol Naik, Permintaan Konsumen Turun 71,12%

Peluncuran hasil survei "Persepsi Konsumen Terhadap Ojek Online (Ojol) di Indonesia", di Jakarta, Senin, 11 Februari 2019


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Rencana Pemerintah menaikkan tarif ojek online (ojol) dengan skema tarif batas bawah Rp 3.100 per kilometer diprediksi akan menurunkan permintaan konsumen terhadap layanan ojek online, sehingga menurunkan pendapatan pengendara ojol.

Hal itu terungkap dalam hasil survei konsumen ojol yang dilakukan oleh Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) dengan melibatkan sebanyak 2.001 konsumen pengguna ojol di 10 provinsi.

“Kenaikan tarif ojek online berpotensi menurunkan permintaan konsumen hingga 71,12 persen,” kata Ketua Tim Peneliti RISED, Rumayya Batubara, di Jakarta, Senin (11/2/2019).

Hasil survei menyebutkan, 45,83 persen responden menyatakan tarif ojol yang ada saat ini sudah sesuai. Sebanyak 27,99 persen responden lainnya mengaku bahwa tarif ojol saat ini sudah mahal dan sangat mahal, sementara 26,19 persen menyatakan tarifnya murah dan sangat murah. Jika memang ada kenaikan, sebanyak 48,13 persen responden hanya mau mengeluarkan biaya tambahan kurang dari Rp 5.000/hari. Ada juga sebanyak 23 persen responden yang tidak ingin mengeluarkan biaya tambahan sama sekali, dan 28,88 persen bersedia mengeluarkan biaya Rp 5.000 - Rp 30.000.

Dari hasil survei yang dilakukan RISED diketahui bahwa jarak tempuh rata-rata konsumen adalah 8,8 km/hari. Dengan jarak tempuh sejauh itu, apabila terjadi kenaikan tarif dari Rp 2.200/km menjadi Rp 3.100/km (atau sebesar Rp 900/km), maka pengeluaran konsumen akan bertambah sebesar Rp 7.920/hari. "Bertambahnya pengeluaran sebesar itu akan ditolak oleh kelompok konsumen yang tidak mau mengeluarkan biaya tambahan sama sekali, dan yang hanya ingin mengeluarkan biaya tambahan kurang dari Rp 5.000/hari. Total persentasenya mencapai 71 ,12 persen,” lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Mantan Ketua YLKI & Mantan Komisioner Komnas HAM Zumrotin K. Susilo menyampaikan, selain faktor keamanan dan kenyamanan, tarif memang selalu menjadi pertimbangan penting konsumen dalam menggunakan layanan ojek online. "Kebijakan yang memengaruhi harga sebaiknya dilakukan secara hati-hati, sehingga tidak mengganggu stabilitas pasar secara menyeluruh. Seluruh pemangku kepentingan harus diperhitungkan dalam proses perumusan regulasi, karena konsumen yang akan terdampak secara signifikan," ujarnya.

Fakta lainnya yang ditemukan dalam survei ini yakni ada 8,85 persen responden tidak pernah kembali menggunakan kendaraan pribadi setelah adanya transportasi ojol. Sementara 72,52 persen responden masih menggunakan kendaraan pribadi, namun frekuensinya hanya 1-10 kali per minggu. "Jika tarif ojol naik drastis, ada kemungkinan konsumen akan beralih ke kendaraan pribadi, sehingga frekuensi penggunaan kendaraan pribadi di jalanan akan semakin tinggi," tutupnya. (ym)
Labels: Otomotif

Thanks for reading Jika Tarif Ojol Naik, Permintaan Konsumen Turun 71,12%. Please share...!

Back To Top