Inovasi Kedokteran Gigi Indonesia pada Era Revolusi Industri 4.0

Dr drg S Ratna Laksmiastuti Octavian sebagai pembicara dalam Pertemuan Ilmiah Nasional Ilmu Kedokteran Gigi Anak ke-12 di Hotel Claro, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu, 9 Maret 2019


MAKASSAR (IndonesiaTerkini.com)- Pakar kesehatan gigi anak, Dr drg S Ratna Laksmiastuti Octavian memperkenalkan perangkat lunak (software) baru untuk memprediksi risiko terjadinya karies gigi pada anak. Perangkat lunak itu merupakan salah satu bentuk inovasi kedokteran gigi Indonesia pada era Revolusi Industri 4.0. Perangkat lunak tersebut diperkenalkan Ratna saat menjadi pembicara pada Pertemuan Ilmiah Nasional Ilmu Kedokteran Gigi Anak ke-12 di Hotel Claro, Makassar, Sabtu (9/3/2019).

Acara itu dihadiri para pejabat Pemprov Sulawesi Selatan, seperti Kadinkes Sulsel, Bachtiar Baso dan Kadinkes Kota Makassar Naisyah. Hadir pula para anggota Pengurus Besar Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia, seperti Ketua P3KGB Putu, Ketua Kolegium Seno Pradopo dan Ketua PP IDGAI Udijanto. Total peserta pertemuan ilmiah tersebut sekitar 400 orang, yang terdiri atas dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak. Acara tahunan tersebur juga dihadiri para pembicara dari luar negeri, seperti dari Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Malaysia.

“Karies atau gigi berlubang menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) merupakan masalah kesehatan utama yang bersifat global. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia yang mempunyai masalah gigi dan mulut secara rata-rata provinsi adalah sebesar 57,6 % dan sekitar 10,2 % nya mendapat pelayanan tenaga medis,” ujar Ratna.

Sementara, kata dia, prevalensi karies anak usia 5-6 tahun di Indonesia adalah sekitar 93%. Berbagai upaya telah dilakukan, baik promotif preventif dan kuratif, tetapi prevalensi karies di Indonesia tetap tinggi. Karies pada anak yang tidak dirawat dapat mengakibatkan hal-hal yang tidak menguntungkan, seperti rasa sakit, infeksi, gangguan aktifitas sehari-hari, gangguan pertumbuhan dan penurunan kualitas hidup. "Oleh karena itu, diperlukan suatu terobosan baru untuk para Dokter Gigi dalam manajemen karies gigi guna menyukseskan Program Nasional Indonesia bebas karies 2030 sesuai rekomendasi WHO,” ujarnya.

Dikatakan, inovasi tersebut sejalan dengan perkembangan teknologi ilmu kedokteran gigi di era Revolusi Industri 4.0. Perangkat lunak ini mengedepankan hakekat kedekatan ibu dan anak, sehingga prediksi risiko terjadinya karies pada anak dapat dilakukan melalui pemeriksaan ibu. "Banyak hasil riset para ahli menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara status kesehatan gigi dan mulut ibu dengan anaknya,” kata Ratna.

Perangkat lunak itu sangat efektif dan bermanfaat sebagai alat diagnostik klinik, identifikasi dan screening pasien khususnya kelompok risiko tinggi, manajemen karies yang lebih efektif, dan sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat Indonesia. Perangkat lunak tersebut dapat dipakai secara luas, bebas, dan mudah oleh para dokter gigi. Aplikasi ini berisi interaksi faktor risiko karies dari ibu dan anak dan status penilaian risiko karies pasien anak beserta pedoman manajemen selanjutnya. "Pembuatan perangkat lunak tersebut di bawah supervisi para pakar kedokteran gigi, yakni Heriandi Sutadi, Sarworini B Budiardjo, dan Tri Erri Astoeti. Dengan pemakaian software ini secara luas diharapkan dapat membantu merealisasikan program kesejahteraan ibu dan anak, terutama dalam meningkatkan kesehatan gigi dan mulut melalui pencegahan karies gigi pada anak Indonesia,” ujarnya," tutupnya. (yun)
Labels: Kesehatan

Thanks for reading Inovasi Kedokteran Gigi Indonesia pada Era Revolusi Industri 4.0. Please share...!

Back To Top