Hindari Penyakit Kardiovaskular, Adopsi Gaya Hidup Sehat dan Deteksi Dini

(Ki-Ka) Kepala Subsektorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI Asik Surya, Presiden Direktur PT Philips Indonesia Dick Hendrik Bunschoten bersama Wakil Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) Ario Soeryo Kuncoro berbicara usai diskusi solusi kesehatan jantung, di Jakarta, Kamis (11/4/2019)


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Penyakit kardiovaskular juga merupakan tantangan utama dalam pelaksanaan Universal Health Coverage karena prevalensi yang semakin lazim dalam populasi. Pada kondisi kronis, biaya pengobatan yang harus dikeluarkan pasien cukup mahal. Di Indonesia, prevalensi penyakit ini semakin meningkat bahkan pada usia muda.

Terkait penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, Kepala Subdirektorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr. Asik Suryo mengatakan, saat ini, ada peningkatan pada hampir semua faktor risiko penyakit jantung, seperti hipertensi, gula darah/diabetes, dan rokok, khususnya pada generasi muda.

“Kebiasaan-kebiasaan buruk seperti malas bergerak (mager) dan makan berlebih juga menjadi penyebab meningkatnya prevalensi penyakit ini di Indonesia dan membengkaknya pembiayaan BPJS,” kata Asik saat Forum Diskusi mengenai penyakit jantung yang bertema “Lindungi Jantung Anda - Pentingnya Deteksi Dini” di Jakarta, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (12/4/2019).

Asik juga menyatakan bahwa pemerintah sudah mengutamakan gerakan pencegahan penyakit dan promosi kesehatan. Salah satunya melalui program POSBINDU (Pos Pembinaan Terpadu untuk Penyakit Tidak Menular), GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat), dan CERDIK (Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin Olahraga, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stress). "POSBINDU merupakan salah satu upaya pemerintah berbasis masyarakat yang dilaksanakan sebagai tindakan dalam menanggulangi Penyakit Tidak Menular (PTM). Sementara GERMAS dan CERDIK merupakan usaha menggalakkan hidup sehat sebagai tindakan preventif atas PTM," lanjutnya.

Wakil Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) dr. Ario Soeryo Kuncoro, SpJP (K) menjelaskan mengenai faktor penyakit jantung. Secara garis besar, faktor risiko penyakit jantung dapat dikategorikan dalam dua jenis, yaitu faktor risiko tradisional dan faktor non-tradisional. Faktor risiko tradisional adalah faktor risiko yang sudah diketahui banyak orang, seperti merokok, makanan, dan gaya hidup. Faktor risiko non-tradisional seperti adanya zat asing yang ada di tubuh dan menjadi pemicu penyakit jantung. "Di Indonesia, masyarakat sudah mulai paham mengenai penyakit jantung dan risikonya, tetapi yang kurang adalah kesadaran untuk mengaplikasikan upaya untuk gaya hidup sehat agar terhindar dari penyakit kardiovaskular. Jika tidak, meningkatnya penyakit ini menjadi kondisi yang lebih kronis dapat berdampak pada pembiayaan perawatan,” paparnya.

Deteksi Dini

Lebih jauh, Presiden Direktur Philips Indonesia Dick Bunschoten mendukung sosialisasi pencegahan dan deteksi dini penyakit tidak menular, terutama penyakit jantung dan pembuluh darah. Philips ingin mengedukasi pentingnya pencegahan dan deteksi dini untuk mengurangi beban penyakit kardiovaskular, baik bagi pasien, tenaga kesehatan, maupun negara.

Selain dari upaya untuk terus mendorong orang mengadopsi gaya hidup sehat, Philips menyediakan teknologi kesehatan canggih yang akan membantu fasilitas kesehatan memberikan perawatan terbaik bagi pasien dan pada saat bersamaan, membuat perawatan tersebut lebih hemat biaya. "Meskipun melalui BPJS pemerintah menanggung biaya pengobatan, pada akhirnya akan dibutuhkan pendekatan kolaboratif oleh semua pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, tenaga kesehatan profesional, asosiasi terkait serta masyarakat umum, untuk mengurangi beban biaya perawatan penyakit kardiovaskular,” ujarnya.

Untuk deteksi dini, Philips memiliki beberapa solusi, seperti pemindai EKG (elektrokardiogram), USG (ultrasonografi) dan CT Scan (Computerized tomography scan), yang membantu mendeteksi gejala penyakit jantung. Perangkat ini membantu memberikan data kesehatan pasien dengan cepat, andal dan biaya murah kepada dokter atau teknisi, yang membantu mengidentifikasi tanda-tanda penyakit kardiovaskular. Solusi HeartStart AED Philips memiliki panduan langkah demi langkah yang memungkinkan praktisi kesehatan mengambil tindakan tanpa ragu menyelamatkan korban serangan jantung mendadak.

Selain itu, Philips juga memiliki Azurion Cathlab, yang dirancang untuk mendiagnosis dan merawat pasien di rumah sakit dan klinik spesialis di berbagai bidang terapi termasuk kardiologi, untuk prosedur mulai dari USG sederhana hingga perfusi pembuluh darah yang kompleks. Azurion telah memenuhi standar internasional untuk perawatan optimal, kesejahteraan dan keselamatan bagi pasien dan dokter. (pr)
Labels: Kesehatan

Thanks for reading Hindari Penyakit Kardiovaskular, Adopsi Gaya Hidup Sehat dan Deteksi Dini. Please share...!

Back To Top