Bidik NIM 4%, BTN Hindari Deposito Berbunga Mahal

Direktur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Nixon LP Napitupulu (tengah), Kepala Divisi Ritel Risk Division Sahat Sihombing, dan Kepala Departemen Hubungan Investor Winang Budoyo kompak tersenyum di sela Public Expose BBTN di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (19/8/2019)


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Perolehan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) PT Bank Tabungan Negara sepanjang semester I-2019 menjadi perhatian pelaku pasar pasar. Bagaimana tidak, NIM BTN yang pada kuartal II-2018 tercatat mencapai 4,17%, mengalami penurunan tajam ke level 3,53% di kuartal II-2019. Posisi ini sebenarnya sudah mengalami kenaikan dibanding kuartal sebelumnya yang tercatat 3,42% pada kuartal I-2019.

Direktur BTN, Nixon L.P. Napitupulu mengatakan anjloknya NIM disebabkan karena bank bersandi saham BBTN di Bursa Efek Indonesia tersebut melakukan penumpukan deposit pada akhir tahun 2019. "Langkah ini membuat biaya bunga menjadi mahal, apalagi pada Desember orang cenderung berebut dana untuk memperbaiki kinerja, alhasil berdampak pada penurunan NIM yang cukup dalam ” ujar Nixon dalam Konfrensi Pers usai acara Public Expose Live di BEI, Senin (19/8/2019).

Nixon memastikan deposito dengan special rate tersebut semuanya telah jatuh tempo, karena jangka waktunya hanya tiga hingga enam bulan. “Karena itu kami optimistis posisi NIM BTN di semester II-2019 akan lebih tinggi, dengan target 3,9% hingga 4%. Bercermin pada pengalaman tadi, Nixon mengatakan pihaknya akan menghidari deposito pada bulan Desember di tahun 2019. “Strateginya kami rubah, deposito mulai kami ambil dari sekarang, sehingga special rate-nya turun, sementara di Desember kami hindar deposito,” urainya.

Target mengejar NIM 4% menurutnya juga didasarkan atas acuan pada Rencana Bisnis Bank (RBB) Perseroan yang tanpa adaya penurunan bunga. “Jadi kalau nanti realisasinya ada satu atau dua kali penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia maka kami akan mendapatkan gain, dimana NIMnya lebih baik dari asumsi RBB,” katanya.

Pertumbuhan Aset

Sementara itu, BBTN terus menunjukan kenaikan posisi aset, hingga menempatkan bank spesialis kredit perumahan ini sebagai bank dengan pertumbuhan aset tertinggi di antara 15 entitas bank terbesar lainnya di Indonesia. Meski demikian, perseroan akan tetap menjaga laju pertumbuhan bisnis sesuai dengan Rencana Bisnis Bank (RBB) hingga akhir 2019. Adapun, aset tercatat tumbuh di level 16,58% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp268,04 triliun pada semester I-2018 menjadi Rp312,47 triliun. Selain mencatatkan kenaikan aset paling tinggi di antara 15 bank besar di Indonesia, pertumbuhan aset BBTN pun berada di atas rata-rata industri perbankan nasional. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merekam aset perbankan nasional hanya naik di level 7,77% yoy per Mei 2019.

Nixon L. P. Napitupulu mengatakan laju pada aset perseroan tersebut disumbang pergerakan positif pada penyaluran kredit dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Kredit dan DPK Bank BTN, lanjut Nixon, naik positif mencapai hampir dua kali lipat industri perbankan nasional. "Kenaikan kredit dan DPK yang melaju tersebut menyumbang pergerakan positif pada aset kami. Kedepannya kami terus berupaya agar laju kenaikan aset tetap dibarengi dengan kualitas yang terjaga,” jelas Nixon

Nixon menjelaskan perseroan tidak hanya mencatatkan kinerja positif pada aset secara tahunan. Perseroan, lanjutnya, berhasil menjaga kenaikan aset tetap positif dalam lima tahun terakhir. Nixon merinci, dalam lima tahun terakhir, laju pertumbuhan majemuk tahunan (Compound Annual Growth Rate/CAGR) aset Bank BTN berada di posisi 20,66%. Kenaikan tersebut tercatat dari Rp144,58 triliun pada Desember 2014 menjadi Rp306,44 triliun pada bulan yang sama tahun 2018.

Komposisi aset BBTN, ujar Nixon, juga didominasi aset produktif. Catatan keuangan Bank BTN per Juni 2019 menunjukkan aset produktif perseroan mencapai 88,98% dari total aset. Adapun, porsi kredit dan pembiayaan tercatat sebesar 89,27% dari total aset produktif Bank BTN.

Di sisi kredit, Bank BTN mencatatkan pertumbuhan pada posisi 18,78% yoy atau naik dari Rp211,35 triliun pada Juni 2018 menjadi Rp251,04 triliun. Kenaikan tersebut mencapai dua kali lipat pertumbuhan kredit industri perbankan nasional. OJK mencatat, kredit nasional tumbuh single digit di level 9,92% yoy per Juni 2019. Sementara kinerja penghimpunan DPK Bank BTN juga mencapai dua kali lipat industri perbankan nasional. Per semester I-2019, Bank BTN menghimpun simpanan masyarakat sebesar Rp219,75 triliun atau naik 15,89% yoy. OJK merekam kenaikan tersebut melesat jauh di atas kinerja penghimpunan DPK perbankan nasional yang hanya tumbuh di level 7,42% yoy per Juni 2019. (pr)
Labels: Ekonomi

Thanks for reading Bidik NIM 4%, BTN Hindari Deposito Berbunga Mahal. Please share...!

Back To Top