Waspadai Gangguan Pendengaran

PT Alat Bantu Dengar Indonesia (ABDI)  meluncurkan Livio AI dari Starkey Hearing Technologies di Jakarta, belum lama ini. Ini merupakan alat bantu dengar pertama di dunia dengan sensor terpadu dan kecerdasan buatan


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Jangan menyepelekan gangguan pendengaran. Sebab, gangguan ini bisa berdampak pada kesehatan, baik fisik maupun psikologis. Untuk itu, penanganan gangguan pendengaran sangatlah penting dan cepat.

Education and Training Audiologist Starkey Hearing Technologies, Judy Grobstein, menjelaskan gangguan pendengaran adalah ketidakmampuan untuk mendengar secara sebagian atau menyeluruh pada salah satu atau kedua telinga. Derajat gangguan pendengaran terbagi menjadi empat tingkatan,dimulai dari gangguan pendengaran ringan (26 – 40 dB), gangguan pendengaran sedang (41 – 60 dB), gangguan pendengaran berat (61 – 90 dB), dan gangguan pendengaran sangat berat (>90 dB). "Orang yang memiliki gangguan pendengaran hanya mampu mendengar suara pada desibel tertentu tergantung dari tingkatan gangguan pendengaran atau ketulian yang diderita. Pada kasus gangguan pendengaran sangat berat, bahkan ada yang hanya mampu mendengar suara bisinan pesawat yang ada di sebelahnya saja," ungkap Grobstein di sela peluncuran Livio AI dari Starkey Hearing Technologies di Jakarta, baru-baru ini.

Managing Director Starkey Hearing Technologies Singapore, Malaysia, and Indonesia Manfred Stoifl, menambahkan masalah gangguan pendengaran harus segera ditangani. Apabila tidak dan terlalu lama ditangani akan berdampak pada kesehatan dan kebugaran, baik fisik maupun psikologis. Sebab, gangguan pendengaran bukan hanya masalah mengenai tidak mendengar tentang suara, tapi juga mengenai mengolah kata dan suara di dalam otak untuk memahami pesan tersebut yang menyebabkan otak terus berfikir dan sibuk. Jika tidak ada kata-kata yang masuk dalam waktu lama akan membuat otak tidak mengenali lagi kata-kata dan pesan tersebut.

"Hal ini yang menyebabkan seseorang yang mengalami gangguan pendengaran berpotensi mengalami penurunan kemampuan kognitif dan demensia. Bahkan, seseorang yang mengalami gangguan pendegaran akan tiga kali lipat menderita demensia dibandingkan yang tidak,” papar Stoifl.

Selain itu, lanjut Stoifl, seseorang yang mengalami gangguan pendengaran juga akan mengalami penurunan kualitas pada kehidupannya. Sebab, seseorang itu mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan orang lain dan menyebabkan merasa kesepian. Namun, lanjut dia, kesepian bukan berarti sendiri, tapi dalam arti dia berada di dalam keramaian tapi merasa sendiri karena sulit bersosialisasi tersebut. "Dampak dari kesepian ini pun akan menggangu kesehatan mental seseorang. Penelitian mengungkapkan, kesepian adalah pintu masuk bagi diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung, hingga obesitas. Bahkan, kesepian sama mematikan seperti merokok dan obesitas,” tegas Stoifl.

Sementara itu, Direktur PT Alat Bantu Dengar Indonesia (ABDI), Fitri Fathia Kirana, menjelaskan salah satu solusi dalam penanganan gangguan pendengaran adalah dengan menggunakan alat bantu dengar. Untuk itu, pihaknya meluncurkan Livio AI dari Starkey Hearing Technologies. Perangkat ini merupakan alat bantu dengar pertama di dunia dengan sensor terpadu dan kecerdasan buatan. Alat ini mampu melakukan sensor aktifitas fisik dan kesehatan otak serta tubuh, ditambah lagi bisa menerjemahkan 27 bahasa secara instan. "Livio AI merupakan alat bantu dengar multiguna pertama, yang sehat dengan sensor terintegrasi dan kecerdasan buatan," pungkas Fitri. (ym)
Labels: Kesehatan

Thanks for reading Waspadai Gangguan Pendengaran. Please share...!

Back To Top