Jelang Universal Health Coverage, Apoteker Wajib Tingkatkan Kapasitas

Direktur PT Merck Tbk Evie Yulin (kedua kiri) bersama Direktur Keuangan dan SDM PT Kimia Farma Apotek Yudhi Rangkuti (kedua kanan) disaksikan Regional Vice President Merck Asia Pasific Andre Musto (kiri) dan Direktur Operasional PT Kimia Farma Apotek Syahrial Panggabean menandatangani perjanjian kerjasama di Jakarta, Selasa (15/10/2019). Merck telah mengedukasi lebih dari 600 orang apoteker dari Kimia Farma Apotek


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Pemerintah menargetkan Indonesia akan mencapai universal health coverage (UHC) atau cakupan kesehatan semesta pada akhir 2019 nanti. Saat itu, seluruh penduduk Indonesia yang jumlahnya kira-kira 160-an juta jiwa sudah harus terlindungi dalam program JKN-KIS yang dikelola oleh BPJS Kesehatan (BPJSK). BPJSK mencatat per 30 September 2019, sebanyak 221,2 juta jiwa atau 83,41% dari penduduk telah menjadi peserta JKN-KIS. UHC menjadi tantangan besar bagi tenaga kesehatan khususnya apoteker.

Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Nurul Falah Eddy Pariang mengatakan, tantangan nomor satu bagi apoteker di era UHC adalah melayani rujukan pasien dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti puskesmas, klinik pratama, dan dokter praktik perorangan ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL) atau rumah sakit (RS), dan sebaliknya. Semakin bertambahnya jumlah peserta, kebutuhan akan pelayanan obat akan terus meningkat. "JKN memperkenalkan rujukan berjenjang, di mana pasien yang dulunya bisa langsung ke dokter spesialis, sekarang harus lebih tertib mulai dari setingkat puskesmas dulu. Kalau puskesmas tidak mampu baru dirujuk ke RS. Nah seorang apoteker harus menghadapi rujukan ini, sehingga kompetensinya harus ditingkatkan,” kata Nurul Fallah usai menandatangani nota kerja sama antara PT Merck Tbk dengan IAI untuk meningkatkan kualitas apoteker di Indonesia di Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Nurul mengatakan, kompetensi apoteker perlu ditingkatkan karena pelayanan obat di FKTP berbeda dengan FKRTL. Saat ini tenaga apoteker berjumlah 110.000 orang, di mana 81.000 di antaranya memberikan pelayanan pasien JKN-KIS yang tersebar di apotek, puskesmas, klinik dan RS di seluruh daerah. Mereka dituntut untuk terus meningkatkan kompetensinya karena apoteker adalah pihak yang paling berkompeten menguasai masalah obat, mulai dari kandungannya, efikasi, khasiat, kualitas, efek samping, interaksi antar obat, hingga sisi keamanannya.

Tantangan selanjutnya, menurut Nurul, adalah maraknya penjualan obat-obatan secara daring dan pelayanan informasi di internet. Survei menunjukkan, sumber informasi yang pertama kali diakses oleh seorang pasien ketika mendapatkan atau ingin mengonsumsi obat-obatan adalah Google. Sumber kedua adalah dokter, baru apoteker, dan referensi lain. Apoteker dituntut berupaya menjawab tantangan tersebut dengan memanfaatkan teknologi digital untuk memberikan layanan informasi kepada masyarakat.

Tantangan lainnya terkait daring, adalah makin banyaknya layanan antar jemput obat berbasis daring termasuk melalui jasa ojek daring. Pasien tidak langsung bertemu apoteker, sehingga dikhawatirkan terjadi miskomunikasi perihal obat itu sendiri dan tata cara konsumsinya. Untuk menjamin keamanan pasien, apoteker harus memastikan bahwa obat tersebut sampai ke tangan pasien dan sesuai. Banyak mekanisme, misalnya melalui video call untuk memastikan obat tersebut sudah diterima oleh yang bersangkutan. Kemudian perlu diterangkan kepada pasien soal tata cara konsumsi, efek samping, dan lain-lain. "Kami imbau para apoteker untuk pintar menyiasati perkembangan ini. Misalnya kalau ada obat antaran, maka apoteker harus menyediakan mekanisme komunikasi. Bila perlu ada pegawai, tenaga teknis kefarmasian, atau orang dalam apotek yang dikirim langsung supaya lebih jelas,” kata Nurul.

Nurul menambahkan, IAI mendorong para apoteker di seluruh pelosok untuk terus gencar melakukan sosialisasi baik daring maupun luring guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengakses informasi dan layanan obat pada sumber yang tepat.

Masyarakat harus mendapatkan obat di tempat yang benar dan tepat, sehingga terhindar dari obat palsu dan kedaluwarsa. Tempat yang benar adalah apotek dan toko obat berizin khusus untuk obat-obatan tanpa resep dokter. Gunakan obat sesuai indikasi medis yang telah ditetapkan oleh dokter, dan konsultasikan penggunaannya dengan apoteker. Simpan obat sesuai dengan suhu yang disyaratkan, dan buang obat sisa jika tidak lagi dibutuhkan. Sebab, obat sisa yang tidak dibuang bisa jadi ditemukan anak-anak, atau dikumpulkan oknum tak bertanggung jawab kemudian dijual kembali. (ym)
Labels: Kesehatan

Thanks for reading Jelang Universal Health Coverage, Apoteker Wajib Tingkatkan Kapasitas. Please share...!

Back To Top