BPOM Keluarkan Izin Edar Vaksin Pneumonia Multidosis

Para pembicara, peserta, dan panitia penyelenggara workshop media bertema " Mengupas Persoalan Vaksin di Indonesia" berfoto bersama pada akhir acara di Jakarta, Selasa 19 November 2019


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan izin edar untuk produk vaksin pneumonia multidosis bantuan dari The United Nations Children's Fund (Unicef). Kini, tinggal bagaimana komitmen Kementerian Kesehatan (Kemkes) untuk menyediakan vaksin tersebut guna memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Direktur Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif BPOM, Ratna Irawati mengungkapkan, pihaknya telah mengeluarkan izin edar untuk vaksin pneumococcal conjugate vaaccine 13 (PCV13) kemasan multidosis sekitar bulan Juli 2019 lalu. Vaksin ini untuk mencegah penyakit pneumonia yang di Indonesia masih menjadi penyebab kematian tertinggi pada bayi di Indonesia. Izin edar dikeluarkan BPOM setelah dilakukan proses evaluasi terhadap aspek mutu, khasiat dan keamanan mulai dari bahan baku hingga menjadi sebuah produk. "Semua proses dari produk ini kami lihat. Semua diperhatikan sesuai persyaratan standar internasional. Untuk keamanan dan khasiat kami juga evaluasi terhadap data klinis yang diujikan pada manusia. Setelah hasilnya memenuhi syarat, BPOM kemudian keluarkan izin edar,” kata Ratna pada media workshop dengan tema “Mengupas Persoalan Distribusi Vaksin di Indonesia”, di Jakarta, Selasa (19/11/2019).

Menurut Ratna, PVC13 adalah satu-satunya vaksin untuk pneumonia yang ada di dunia. Diketahui PVC13 melindungi tubuh dari infeksi 13 bakteri pneumokokus yang menyebabkan penyakit meningitis, pneumonia, dan infeksi berat. Para peneliti di dunia mengidentifikasi ada puluhan jenis bakteri pneumokokus, namun vaksin yang ada baru bisa membunuh 13 jenis yang bisa menyebabkan penyakit pada manusia.

Sebelumnya vaksin PVC13 dengan nama dagang Prevenar 13 yang mendapatkan izin edar dari BPOM adalah dosis tunggal (single doze). Ratna menjelaskan, dari sisi khasiat, mutu, dan keamanan tidak ada perbedaan antara PVC 13 dosis tunggal dengan dosis ganda. Yang membedakan hanyalah kemasannya. Dosis tunggal hanya dipakai sekali, sedangkan dosis ganda berbentuk satu kemasan tetapi bisa dipakai beberapa kali. Bentuk sajian inilah yang membuat harga PVC 13 dosis ganda lebih murah dari dosis tunggal. Indonesia saat ini baru menggunakan PVC 13 dosis tunggal. Itu pun masih diujicobakan di sejumlah daerah, dan belum menjadi bagian dari imunisasi rutin lengkap secara nasional karena harganya sangat mahal.

Kini, Unicef memberikan peluang kepada Indonesia untuk pengadaan PVC13 dosis ganda dengan biaya lebih murah melalui skema advance market commitment (AMC). Dengan model kerja sama ini Indonesia bisa melakukan pengadaan PVC 13 dengan harga hanya US$ 2,93 per dosis, lebih murah dari harga normalnya US$ 20 per dosis. Peluang ini bisa jadi akan hilang bila pemerintah Indonesia dalam hal ini Kemkes tidak segera mengambilnya. Pemerintah dikejar tenggat waktu untuk mengisi aplikasi pembelian vaksin PVC 13 melalui Unicef per 31 Desember 2019 ini.

Sebelumnya, Direktur Anggaran Bidang PMK Ditjen Anggaran Kementerian Keuangan, Dr Purwanto, mengatakan, Indonesia bisa menghemat anggaran pembelian PVC13 sebesar Rp 7 triliun selama 2019-2024 apabila menggunakan skema kerja sama Unicef. Kemkes akan mengeluarkan anggaran sebesar Rp 9,75 triliun untuk memenuhi kebutuhan vaksin selama 2019-2024. Dengan kerja sama Unicef, Kemkes hanya mengeluarkan sebesar Rp 2,13 triliun. (ym)
Labels: Kesehatan

Thanks for reading BPOM Keluarkan Izin Edar Vaksin Pneumonia Multidosis. Please share...!

Back To Top