Bijak Gunakan Bumbu Penyedap Rasa

PT Sasa Inti mengadakan Konferensi Pers 'Penggunaan bumbu penyedap rasa dengan bijak tidak berbahaya bagi kesehatan' di Jakarta, Rabu (5/2/2020)


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Monosodium Glutamate atau MSG telah umum digunakan sebagai bahan penambah rasa masakan sejak puluhan tahun yang lalu. Namun seiring dengan berjalannya waktu, banyak orang yang berasumsi bahwa MSG dapat menggangu kesehatan tubuh karena dianggap merusak otak yang berpengaruh terhadap penurunan intelegensi.

Ketua Umum PDGKl (Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia), Prof Nurpudji A Taslim menjelaskan, Monosodium Glutamate atau MSG memang masih marak dibicarakan karena begitu banyaknya mispersepsi yang terjadi di kalangan masyarakat mengenai efek negatifnya terhadap kesehatan. Penggunaan bumbu penyedap rasa tidak berbahaya bagi kesehatan selama penggunaannya dilakukan dengan bijak. Artinya bahan penyedap rasa itu digunakan sesuai dengan porsinya, tidak berlebihan. "Takaran yang dianjurkan adalah 10mg/kg berat badan. Misalnya seseorang memiliki berat badan 60 kilogram, ukuran yang diperbolehkan adalah sekitar 60 gram atau setara satu sendok teh," ungkapnya di sela Konferensi Pers 'Penggunaan bumbu penyedap rasa dengan bijak tidak berbahaya bagi kesehatan' di Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Selain itu, lanjut Prof Nurpudji, dari sisi yang menyantap makanan pun diharapkan selalu memperhatikan gizi yang seimbang. Jika memperhatikan asupan gizi dengan baik dan menggunakan MSG dalam porsi yang tepat dan seperlunya, tentunya tubuh tetap sehat dan tidak perlu dikhawatrikan MSG tersebut memberikan efek negatif terhadap kesehatan. "Hal ini yang perlu disadari oleh masyarakat agar persepsi mengenai penggunaan MSG tidak lagi rancu dan mengakibatkan tumbuhnya berbagai asumsi yang kurang tepat," tambahnya.

Dokter dan ahli nutrisi, Dr Maya Surjadjaja menjelaskan, sejak berabad-abad yang lalu, MSG merupakan penyedap rasa alami yang diperoleh dari hasil pengolahan rumput laut dan kini dengan berkembangnya teknologi, MSG dibuat dari proses fermentasi tepung yang pengolahannya mirip seperti membuat cuka, minuman anggur (wine) ataupun yoghurt. "Secara kimia, MSG berbentuk seperti bubuk Crystalline berwarna putih yang terkandung atas 78 persen asam glutamat dan 22 persen sodium dan air. Asam glutamat yang terkandung dalam MSG tidak memiliki perbedaan dengan asam glutamat yang terkandung dalam tubuh manusia dan dalam bahan-bahan makanan alami seperti keju, ekstrak kacang kedelai dan tomat," papar dr Maya.

Sayangnya, dr Maya menambahkan, penggunaan MSG yang ditambahkan ke dalam masakan untuk menghasilkan rasa gurih semakin tinggi penggunaannya dari waktu ke waktu. Di banyak negara, MSG sering disebut sebagai 'garam Cina atau China salt' karena penggunaan MSG memang paling sering digunakan untuk berbagai menu masakan Asia serta beberapa makanan olahan di berbagai negara Barat. Selain memberikan rasa gurih jika dibubuhkan ke dalam masakan, MSG memberikan aroma khas jika dibubuhkan ke dalam makanan olahan. Rasa gurih yang dihasilkan ini dinamakan dengan rasa Umami atau rasa kelima setelah rasa manis, asin, pahit dan asam.

Padahal, tambahnya, kata Umami diambil dari bahasa Jepang yang artinya rasa menyenangkan dan gurih. Berdasarkan hasil riset yang hasilnya telah dipublikasikan pada tahun 2015 melalui jurnal terbuka berjudul Flavour yang berisikan berbagai artikel mengenai The Science of Taste disebutkan bahwa rasa umami dapat memperbaiki rasa makanan rendah kalori yang mana hal itu justru dapat menguntungkan bagi kesehatan. (sd)
Labels: kuliner

Thanks for reading Bijak Gunakan Bumbu Penyedap Rasa. Please share...!

Back To Top