PB IDI Bentuk Satgas Kesiapsiagaan Virus Korona

Ketua Umum PBI IDI dr Daeng Faqih menandatangani kesepakatan dengan masyarakat untuk bersama sama menanggulangi masalah balita pendek atau stunting di area Car Free Day, Jakarta, Minggu (24/11/2019)


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) akan membentuk satuan tugas (satgas) kesiapsiagaan novel coronavirus (nCoV). Satgas ini antara lain mengkoordinasikan semua dokter di Indonesia untuk siaga apabila sewaktu-waktu virus ini ada di Indonesia.

Ketua Umum PB IDI, Daeng M. Faqih mengatakan, penyebaran nCoV yang berasal dari Kota Wuhan, Tiongkok, menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Baik jumlah kasus maupun kematian terus bertambah di dunia. Hampir semua negara tetangga, seperti Singapura, Australia, dan Malaysia tertular. "Kapan pun Indonesia berisiko tertular. Karenanya kesiapan seluruh pihak, terutama sektor kesehatan harus ditingkatkan," ujar Daeng pada diskusi media dengan topik menjaga kesehatan untuk mencegah dan memutus mata rantai infeksi virus korona yang diselenggarakan PDPI bersama Mundipharma Indonesia di Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Satgas yang dibentuk PBI IDI, menurut Daeng, akan bekerja mengumpulkan informasi terkait nCoV mulai dari penularan hingga gejalanya. Diketahui awalnya gejala nCoV hanya demam, batuk, pilek, sakit kepala hingga sulit bernapas. Tapi belakangan beberapa kasus juga menunjukkan gejala diare. NCoV dideteksi pada kotoran dari kasus pertama di Amerika Serikat (AS).

Satgas kesiapsiagaan nCoV ini juga akan dibentuk sampai di tingkat wilayah untuk berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait, seperti dinas kesehatan, kantor kesehatan pelabuhan, dan 100 rumah sakit yang ditunjuk Kemkes khusus untuk menangani penyakit infeksi emerging. Satgas ini juga akan mengkoordinir seluruh dokter untuk memberikan edukasi dan informasi yang benar kepada masyarakat tentang virus korona. Kemudian menyiagakan dokter dengan keahlian yang memadai untuk bisa menangani pasien nCoV secara tepat. Ada dua pedoman penanganan nCoV yang sudah disiapkan Kementerian Kesehatan maupun Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Pedoman ini akan jadi acuan dokter dan fasilitas kesehatan apabila sewaktu waktu nCoV masuk ke Indonesia.

Dengan pedoman ini diharapkan dokter kita mampu menangani apabila nanti ada kasus positif. Pedoman ini mengacu pada standar WHO. Hingga saat ini nCoV belum ada obat dan vaksinnya. Karenanya masyarakat diminta untuk mencegah penularannya dengan cara menjaga kesehatan dan imunitas tubuh.

Secara terpisah, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemkes, Anung Sugihantono mengatakan peningkatan kasus nCoV bersifat eskponensial. Kasus terus meningkat dibandingkan hari hari sebelumnya. "Kasus nCOv bukan hanya melandai, tetapi meningkat di hari ke hari. Ini tentu jadi perhatian WHO dan khusus untuk Tiongkok harus high attention, dan negara lain diminta untuk lakukan upaya yang jauh lebih serius,” kata Anung.

Di Indonesia sendiri, lanjut Anung, hingga hari ini belum dilaporkan adanya kasus potisit nCoV. Hingga pagi tadi, total ada 47 spesimen dari kasus yang diduga nCoV dikirim ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemkes untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Sebanyak 43 di antaranya menunjukkan hasil negatif, artinya bukan nCoV. Sedangkan sisanya 4 spesimen masih dalam proses pemeriksaan, dan hasilnya baru akan diumumkan besok, Jumat. (ym)
Labels: Kesehatan

Thanks for reading PB IDI Bentuk Satgas Kesiapsiagaan Virus Korona. Please share...!

Back To Top