Cara Super Indo Tangani Sampah Organik

Johan Boeijenga, Chief Executive Officer Super Indo bersama Pendiri Magalarva saat penandatanganan kerja saja pengelolaan sampah organik


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Indonesia bisa dibilang saat ini sudah dalam kondisi darurat sampah. Bayangkan, setiap hari sekitar 7.500-8.000 ton sampah yang ditimbun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang Bekasi saja. Dan umur teknis TPA Bantar Gebang dengan kondisi tersebut hanya tinggal 2-3 tahun saja. Jika kita tidak melakukan secara radikal pengelolaan sampah dengan benar, ini akan sangat berbahaya.

Hal ini disampaikan Ujang Solihin Sidik, dari Direktorat Pengelolaan Sampah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada peluncuran program #ZerotoLandfill oleh Super Indo di Jakarta. Kampanye ini diluncurkan Super Indo guna menekan sampah yang dibuang ke TPA.

Ujang menyambut kampanye yang diluncurkan Super Indo. Terlebih ketinggian sampah di TPA Bantar Gebang saja sudah mencapai 40 m. Ia mengingatkan saat terjadi musibah longsong di TPA Leuwih Gajah pada 2005, ketinggian sampahnya mencapai 60 m, jangan sampai musibah yang sama terjadi lagi. Program #ZerotoLandfill diluncurkan Super Indo dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2020, sebagai komitmen perusahaan ritel ini pada lingkungan. Program tersebut dikhususkan dalam manajemen sampah organik yang bisa memberikan nilai dan manfaat bagi masyarakat. Pada kesempatan tersebut, Super Indo juga melakukan penandatangan kerjasama dengan para mitra pengelolaan sampah yaitu FoodBank of Indonesia, Magalarva dan Delta Hijau Abadi.

Johan Boeijenga, Chief Executive Officer Super Indo mengatakan perusahaan sangat memperhatikan pengelolaan sampah dan pembuangannya. Menurutnya ada 3 sampah besar di Super Indo, yaitu buah, sayur, dan daging/ikan. "Masalah penumpukan sampah dampaknya sangat besar pada lingkungan kita. Untuk mengatasi masalah ini harus melibatkan masyarakat dalam solusinya. Pengelolaan sampah ddengan cerdas, memilah dengan benar mana yang benar-benar sampah atau bukan. Sampah organik di super grocery harus dilihat sebagai sumber daya berguna yang dapat dijadikan produk bernilai, memberi manfaat sosial dan lingkungan,” paparnya.

Untuk itu strategi pengelolaan sampah bisa dilakukan dengan tiga langkah yaitu: mengolah sampah organik menjadi produk bernilai seperti kompos dan pakan ternak, mengolahnya kembali menjadi produk tepat guna lain, dan memanfaatkan makanan yang mendekati masa kadaluarsa namun masih layak dikonsumi (masa kadaluarsa masih 1 bulan) diolah kembali untuk dimanfaatkan mengurangi kelaparan atau korban bencana. "Untuk itu kami mulai bergerak agar sampah dikelola dengan lebih cerdas, agar bisa bermanfaat, tidak langsung dibuang ke TPA. Kami di Super Indo menjalankan metode ramah lingkungan dalam pengelolaan sampah di setiap kegiatan operasional kami, dan tentunya ini juga sebagai bentuk dukungan kami kepada pemerintah dalam memerangi sampah,” kata Johan.

Ujang memuji yang dilakukan Super Indo selama ini, yang dalam pengamatannya, dibanding pemain ritel lain, dalam pengeloalan sampah Super Indo dikenal selalu terdepan. “Benar yang dilakukan Super Indo, harus membangun kesadaran diri dalam pengelolan sampah berkaca dari tragedi TPA Leuwih Gajah di 2005. Kita tidak bisa bergantung pada TPA, mengelola sampah harus dari sumbernya. Langkah sederhana, dari Super Indo, saya yakin bisa mengurangi sampah yang dibawa ke TPA. Kami akan ajak ritel modern lain untuk lakukan hal sama. Super Indo bisa menjadi role model dalam pengelolaan sampahnya,” paparnya.

Ia juga mendorong diterapkannya di Super Indo skema toko curah seperti yang telah diterapkan Saruga bersama Unilever. Apalagi pada 2030 sudah ditetapkan bahwa seluruh Indonesia tidak boleh ada kantong plastik lagi digunakan. Jakarta sudah menerapkan bebas kantong sampah sejak Juli tahun lalu. Saat ini Super Indo memiliki 180 gerai, sebelum menerapkan program #ZerotoLanfill, kepedulian perusahaan pada lingkungan sudah dijalankan melalui program Super Indo Berkebun dan komitmen bebas kantong plastik sejak 2017. “Kami terus mendorong strategi sustainability melalui promosi healthier eating dan mengurangi sampah makanan,” terangnya.

Ia menyebut sampah organik dari Super Indo sekitar 50% porsinya dari seluruh sampah yang dihasilkan, sedangkan 70% dibuang ke TPA. Untuk itulah program ini didorong, Super Indo tidak mau menambah sampah yang dikirim ke TPA.

Dijelaskan D. Yuvlinda Susanta, Head of Corporate Affairs and Sustainability Super Indo di bisnis supermarket grocery, sampah organik biasanya dipandang sebagai sampah tanpa nilai sama sekali dan harus langsung dibuang ketempat pembuangan sampah atau TPA. Sampah organik yang dihasilkan Super Indo tiap hari tiap toko sekitar 60 kg ini terdiri dari sayur, buah, ayam, daging, ikan. “Selama ini memang langsung ke TPA dengan kerja sama ini sampah langsung dikelola Magalarva untuk kemudian menjadi bahan pengembangbiakan belatung yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak organik,” jelasnya.

Lalu sampah minyak goreng bekas atau jelantah setiap toko minimal 20 kg per hari yang kemudian bisa diolah kembali oleh Delta Hijau untuk dijadikan bio diesel. Sedangkan untuk produk yang hampir mendekati kadaluarsa, agar bisa dimanfaatkan, karena masih layak konsumi Super Indo mengganddeng Food Bank of Indonesia. “Super Indo sudah bekerja sama dengan mereka sejak 2018 sebenarnya, pada tahun itu ada 300 ton produk makanan layak konsumsi yang dikelola untuk dimanfaatkan yang membutuhkan. Tahun 2019 angka produk yang dikumpulkan naik menjadi 500 ton, hingga awal tahun ini hampir 900 ton yang sudah dikelola Food Bank of Indonesia dari Super Indo,” paparnya.

Ia menegaskan bahwa produk makanan tersebut tetap memiliki nilai gizi cukup baik, ini bukan sampah tapi makanan yg masih layak bisa dimanfaatkan untk masy yang kurang mendapat akses gizi. Dengan langkah pengelolaan sampah dengan cerdas ini, Super Indo berhasil mencatat recycling rate sampahnya sampai 55%. “Kami berharap angka ini bisa meningkat terus tiap tahun,” tegas Yuvlinda. (sd)
Labels: Ekonomi

Thanks for reading Cara Super Indo Tangani Sampah Organik. Please share...!

Back To Top