Cerita Kesuksesan 2 Alumni Farmasi UNAIR Jadi Guru Musik Hingga Pianis Eropa

  


Tamu pertama, Felix Justin, telah banyak dikenal sebagai salah satu pianis Indonesia yang berkesempatan tampil di hadapan Ratu Belanda dan Ratu Belgia. Siapa sangka jika jenius musik tersebut merupakan lulusan farmasi UNAIR angkatan 2003. Peraih beasiswa Erasmus di Royal College of Music London tersebut selama 10 tahun belakangan telah melebarkan sayapnya dari konser ke konser di penjuru Belanda



SURABAYA (IndonesiaTerkini.com)- Latar belakang pendidikan tidak menghentikan langkah dua alumni Fakultas Farmasi (Alfas) Universitas Airlangga (UNAIR) untuk meraih mimpi. Hal tersebut menjadi kisah dan kesuksesan unik yang dialami Apt. Felix Justin dan Apt. Astari Noor Pratiwi. Dalam pertemuan daring pada Senin (19/9/2020), kedua anggota Alfas tersebut menceritakan bagaimana perjalanan mereka dari seorang lulusan farmasi hingga mampu sukses berkarir sebagai seorang musisi.

Tamu pertama, Felix Justin, telah banyak dikenal sebagai salah satu pianis Indonesia yang berkesempatan tampil di hadapan Ratu Belanda dan Ratu Belgia. Siapa sangka jika jenius musik tersebut merupakan lulusan farmasi UNAIR angkatan 2003. Peraih beasiswa Erasmus di Royal College of Music London tersebut selama 10 tahun belakangan telah melebarkan sayapnya dari konser ke konser di penjuru Belanda.

Kecintaan Felix pada piano telah muncul sejak usia 3,5 tahun. Akan tetapi titik balik karirnya menuju dunia musik dimulai setelah lulus dari UNAIR. “Di UNAIR dulu aktif di paduan suara. Lalu setelah lulus, sempat dua tahun mengajar di Sekolah Musik Irama di Surabaya. Tahun 2010, aku berangkat ke Eropa untuk belajar musik, hingga sekarang menetap kerja di Utrecht Belanda,” ungkap lulusan FF UNAIR bergelar cum laude tersebut.

Ditanya mengenai tantangan dalam Farmasi dan musik, Felix menimpali bahwa keduanya memiliki tantangan dan keunikan yang berbeda satu sama lain. Dalam farmasi, standar yang digunakan untuk menilai mahasiswa adalah nilai. Sementara dalam sekolah musik, kualitas mahasiswa dinilai lewat ‘rasa’. “Dan tentunya panggilan hati saya untuk saat ini adalah musik. Yah, meskipun teman-teman disini (Belanda, red) masih sering tanya-tanya tentang obat karna tahu saya lulusan farmasi,” katanya.

Sementara itu bagi Astrid, panggilan akrab Astari, banting setir menuju dunia musik adalah salah satu pilihan terbesar yang pernah ia buat. Sebelum aktif bekerja sebagai guru piano, Astrid telah aktif bekerja selama 5 tahun di sebuah pabrik farmasi di Bogor. Hingga tahun 2010, dirinya memilih pindah ke Jakarta untuk bekerja di bidang personality development serta mengawali karir sebagai guru piano.

“Salah satu pencapaian terbesar saya adalah mendapat kesempatan mengajar di sekolah musik milik musisi kenamaan Purwacaraka. Ikut tes, wawancara langsung dengan beliau, serta serangkaian kualifikasi lain,” kata alumni FF angkatan 2008 yang telah mengenal dunia piano sejak SD tersebut. 

Menurut Astrid, lingkungan sangat berpengaruh terhadap kecintaannya di dunia musik. 

Lingkungan yang supportif dianggap mampu mendorongnya untuk lebih sukses meraih dan mempertahankan mimpinya. Begitu pula dengan Felix dengan memilih Belanda sebagai tujuan studinya karena negara tersebut bersikap lebih terbuka dan adaptif kepada mahasiswa asing.

Dalam acara yang dipandu oleh Apt. Graha Wira Krida dan Irfan Mustofa tersebut, turut hadir sederet alumni, dosen, maupun mahasiswa FF UNAIR. Acara yang digelar via Zoom serta live streaming di youtube FAST Corp itu sendiri sukses menggaet atensi keluarga besar FF UNAIR dan memotivasi mereka untuk pantang menyerah terhadap mimpi dan cita-cita. (pr)

Labels: Pendidikan

Thanks for reading Cerita Kesuksesan 2 Alumni Farmasi UNAIR Jadi Guru Musik Hingga Pianis Eropa. Please share...!

Back To Top