2021, BEI Bidik Pencatatan Saham Emiten di Sektor Teknologi

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPLB) BEI di Jakarta Selasa (27/10/2020)



JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan 30 pencatatan efek baru pada 2021. Pencatatan efek baru iitu, terdiri dari saham, obligasi korporasi baru, dan pencatatan efek lainnya meliputi Exchange Traded Fund (ETF), Dana Investasi Real Estate (DIRE) dan Efek Beragun Aset (EBA).

Direktur Penilai Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengatakan target tersebut akan dicapai melalui pelaksanaan kegiatan sosialisasi untuk perusahaan tercatat dan calon perusahaan tercatat yang saat ini dilakukan melalui kombinasi penyelenggaraan kegiatan sosialisasi, one-on-one meeting, serta workshop yang dilakukan secara online maupun offline. "Kami melihat perkembangan yang ada saat ini. Untuk itu, kita targetkan 30 pencatatan ke depan dari kombinasi bukan hanya perusahaan yang berkembang seperti sekarang atau konvensional, tapi mengarah pada teknologi companies dan E-commerce,” katanya, Selasa (27/10/2020).

BEI juga menargetkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pada tahun 2021 mencapai Rp 8,5 triliun. Target tersebut meningkat dibandingkan rerata nilai transaksi harian bursa di tahun ini yang tercatat hanya sebesar Rp 7,9 triliun.

Direktur Pengembangan BEI, Hasan Fawzi, mengatakan beberapa katalis yang mendorong kenaikan transaksi tersebut ialah optimisme membaiknya pertumbuhan ekonomi domestik di tahun depan. Selain itu juga karena aktivitas investor domestik ritel yang kian meningkat. "Kita meyakini tren ini akan tetap berlanjut dan dipertahankan di tahun depan. Salah satu sumber turn over harian datang dari aktivitas transaksi investor ritel domestik,” kata Hasan.

Sementara itu, BEI juga secara berkesinambungan memberikan dukungan pengembangan, serta kepatuhan anggota bursa (AB) dan partisipan, yang diwujudkan melalui kegiatan pelatihan dan sosialisasi, pertemuan rutin, dukungan jasa informasi, serta dukungan teknis dalam pengembangan sistem dan layanan kebursaan. Tidak hanya itu, BEI juga terus berupaya melakukan pengembangan pasar untuk meningkatkan jumlah dan aktivitas investor pasar modal di masa pandemi Covid -19. Selain itu, BEI juga fokus pada inovasi untuk meluncurkan produk, layanan, dan instrumen pasar yang baru. Hal tersebut menurutnya sejalan dengan tema pengembangan yang telah ditetapkan untuk tahun 2020-2021, yaitu “Melakukan Pendalaman Pasar Modal, Meningkatkan Efisiensi, dan Transparansi”.

Dalam upaya mewujudkan aspirasi BEI tersebut, BEI dikatakan Hasan telah menetapkan sejumlah inisiatif dalam empat pilar utama pengembangan. Pertama, meningkatkan efisiensi sebagai bursa efek dalam penggalangan dana dan aktivitas perdagangan untuk menarik partisipasi yang lebih besar. Kedua, mengembangkan area pertumbuhan baru, termasuk pasar modal syariah. Ketiga, memperluas cakupan layanan perdagangan untuk memenuhi kebutuhan pelaku pasar. Keempat, menjaga pasar yang teratur melalui tata kelola dan pengawasan berteknologi tinggi. "Pilar ini merupakan pilar yang sangat penting, yaitu bagaimana bursa mengedepankan pasar yang teratur melalui tata kelola dan pengawasan berteknologi tinggi untuk mendukung pengembangan pasar ke depan,” kata Hasan.

Sementara itu, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi menyampaikan, rencana pengembangan bursa yang akan dilakukan, telah melalui serangkaian koordinasi dan masukan dari seluruh stakeholders pasar modal, baik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), pemerintah, AB, SRO, dan tentunya juga dari kalangan asosiasi. Memperhatikan seluruh target dan rencana kegiatan BEI pada tahun 2021, proyeksi total pendapatan yang akan diperoleh BEI adalah sebesar Rp1,12 triliun atau meningkat 17,36% dibandingkan total pendapatan RKAT 2020 revisi senilai Rp 957,54 miliar. Lalu laba bersih 2021 dibidik sebesar Rp 119,72 miliar dengan total aset sebesar Rp3,16 triliun atau naik 7,07%. Adapun saldo akhir kas dan setara kas pada tahun 2021 diproyeksikan mencapai Rp 1,63 triliun.

“Pengembangan yang akan dilakukan BEI, serta penetapan penggunaan asumsi dalam penyusunan RKAT 2021, masih mempertimbangkan perkembangan penanganan Covid-19 sampai dengan tahun 2021 di Indonesia,” ujar Inarno. (sd)

Labels: Ekonomi

Thanks for reading 2021, BEI Bidik Pencatatan Saham Emiten di Sektor Teknologi. Please share...!

Back To Top