Kemenperin Sinergikan Sektor Industri dan Pertanian

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Abdul Rochim (kanan) menandatangani memorandum of understanding (MoU) atau nota kesepahaman antara Kementerian Perindustrian dan Kementerian Pertanian di Tangerang, Banten, Jumat (10/12/2019)



JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Pemerintah menyinergikan sektor industri dan pertanian untuk memangkas impor industri agro. Hal ini dituangkan dalam nota kesepahaman yang diteken Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Pertanian (Kementan).

“Tujuan ditandatanganinya nota kesepahaman ini untuk menyinergikan tugas dan fungsi kedua lembaga dalam mendukung pembangunan serta pengembangan agroindustri,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Abdul Rochim, Jumat (11/12/2020).

Rochim mengatakan, ruang lingkup kesepakatan bersama meliputi peningkatan produksi, peningkatan mutu, nilai tambah, dan daya saing produk pertanian sebagai bahan baku industri, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), peningkatan jejaring kemitraan usaha pertanian dengan industri, pertukaran data dan informasi, sinergi regulasi dan standar dalam pengembangan, serta pembangunan agribisnis dan agroindustri. “Industri agro merupakan subsektor industri pengolahan nonmigas yang mempunyai peranan penting dan strategis dalam perekonomian nasional, sehingga kinerjanya harus dioptimalkan,” tutur Rochim.

Menurut dia, bila dilihat dari kontribusi ekspor, industri agro mempunyai peranan yang penting dalam nilai pengapalan industri pengolahan non-migas. Meskipun dalam kondisi pandemi Covid-19, selama Januari-Agustus 2020, total nilai ekspor industri agro mencapai US$ 29,27 miliar atau 35,36% terhadap ekspor industri pengolahan non-migas sebesar US$ 82,76 miliar. Adapun impor industri agro pada periode tersebut mencapai US$ 9,87 miliar atau 13% terhadap impor industri pengolahan non-migas (US$ 75,97 miliar). Dari nilai tersebut, sebanyak 70% lebih merupakan impor bahan baku dan bahan penolong untuk memenuhi kebutuhan produksi industri agro dalam negeri,” sebut Rochim.

Dia mencontohkan, kebutuhan bahan baku industri susu yang setara susu segar mencapai 4 juta ton. Kebutuhan tersebut baru dapat dapat dipenuhi oleh bahan baku dalam negeri sebesar 20% atau 0,9 juta ton. Sisanya sebanyak 3,1 juta ton atau 80% dalam bentuk skim milk powder, whole milk powder, anhydrous milk fat, butter milk powder, dan whey masih diperoleh melalui impor. Kemudian, kebutuhan gula berbasis tebu baik untuk konsumsi maupun industri sekitar 6 juta ton per tahun. Adapun kemampuan produksi industri gula dalam negeri 2,2 juta ton per tahun yang umumnya digunakan sebagai gula konsumsi. Sehingga, kebutuhan gula industri, baik sebagai bahan baku gula rafinasi maupun industri, sebesar 3,25 juta ton masih diimpor dalam bentuk raw sugar.

Selanjutnya, jenis-jenis industri agro yang masih bergantung pada bahan baku impor antara lain biji kakao mencapai 235 ribu ton per tahun, tembakau jenis virginia, oriental, dan burley sebesar 131 ribu ton per tahun, gandum mencapai 12,3 juta ton per tahun, teh hitam 10,9 ribu ton per tahun, daging hingga 166 ribu ton per tahun, serta buah-buahan dan sayuran mencapai 40,9 ribu ton per tahun. “Bisa dilihat, masih banyak bahan baku dan bahan penolong industri agro yang diimpor, sehingga kerja sama strategis antara Kemenperin dan Kementan mampu meningkatkan pemenuhan bahan baku industri, peningkatan nilai tambah di dalam negeri, dan peningkatan daya saing industri nasional, khususnya dalam memasuki pasar ekspor,” imbuh dia. (sd)

Labels: Ekonomi

Thanks for reading Kemenperin Sinergikan Sektor Industri dan Pertanian. Please share...!

Back To Top