Optimalisasi Program Pencegahan Anemia pada Remaja Putri Perlu Ditingkatkan

Webinar Optimalisasi Pelaksanaan Monitoring Program Pencegahan Anemia pada Remaja Putri di Masa Pandemi, Kamis (4/2/2021)



JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Sebanyak 98% remaja di Indonesia belum minum Tablet Tambah Darah (TTD) dalam jumlah cukup. Alasannya beragam, mulai dari merasa tidak perlu, lupa, hingga khawatir akan efek samping. Data itu disampaikan oleh  Subdit Kewaspadaan Gizi, Direktorat Gizi Masyarakat, Lina Marlina. “Permasalahan ini cukup serius karena ini berarti 3-4 remaja dari 10 remaja memiliki anemia,” paparnya pada Webinar Optimalisasi Pelaksanaan Monitoring Program Pencegahan Anemia pada Remaja Putri di Masa Pandemi, Kamis (4/2/2021).

Ditinjau dari status gizi, 1 dari 4 remaja mengalami stunting dan 1 dari 7 remaja mengalami berat badan lebih. Sebanyak 65% remaja tidak sarapan, 20% anak sekolah memiliki kebiasaan makan kurang dari 3 kali sehari, 97% anak kurang mengonsumsi sayur dan buah, dan 57% anak kurang melakukan aktivitas fisik. “Kami berupaya mempersiapkan generasi terbaik ke depannya. Dimulai dari mempersiapkan remaja yang sehat tanpa anemia. Ke depan, mereka akan menjadi ibu hamil dan akan melahirkan generasi yang tidak mengalami stunting,” jelas Lina.

Direktur Nutrition International Indonesia, Sri Kusyuniati menjelaskan saat ini pihaknya dan Kementerian Kesehatan sedang sedang melaksanakan program kemitraan dengan berbagai program seperti pencegahan anemia pada ibu hamil dan remaja putri hingga fortifikasi tepung terigu dan garam beryodium. Program ini berfokus pada pendidikan gizi dan suplementasi tablet tambah darah di SMA/Sederajat di masing-masing 10 kabupaten terpilih di NTT dan Jawa Timur. “Pandemi telah menyebabkan pemantauan pemberian TTD dan pemantauan gizi di tingkat sekolah terhambat. Namun jika memungkinkan, pelaksanaan program optimalisasi diharapkan untuk mampu mengembangkan inovasi dalam mengumpulkan informasi yang memadai dalam tepat waktu untuk perencanaan pelaksanaan program di waktu mendatang,” jelas Kusyuniati.

Direktur Gizi Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Dhian Dipo menjelaskan tingginya angka stunting diawali dengan tingginya angka anemia pada remaja putri. Sehingga perlu dilakukan penguatan sehingga permasalahan anemia pada remaja bisa diselesaikan dengan baik. Biasanya ada beberapa sekolah yang melakukan kegiatan minum tablet tambah darah bersama. Artinya peran peer group sangat besar dalam edukasi mencegah anemia. Selain itu, komposisi TTD yang sesuai dengan standar WHO harus diketahui dengan baik. “Kita harus mengajarkan baik kepada guru dan siswa untuk tahu komposisi tablet tambah darah sehingga tidak kurang dan tidak lebih,” ujar dia. (ym)

Labels: Kesehatan

Thanks for reading Optimalisasi Program Pencegahan Anemia pada Remaja Putri Perlu Ditingkatkan. Please share...!

Back To Top