BEI Ajak Klub Sepak Bola Go Public seperti Bali United

Pemain Bali United membawa trofi seusai penganugerahan juara Liga 1 2019 di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Minggu (22/12/2019). Bali United berhasil menjadi juara Liga 1 2019 dengan total poin 64



JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Bursa Efek Indonesia (BEI) mengajak klub sepak bola untuk go public seperti yang dilakukan Bali United. Langkah ini diyakini Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna dapat mempererat hubungan antara klub sepak bola dan para pendukungnya (supporter).

Inarno menjelaskan, sebagai publicly listed company, manfaat yang didapatkan perusahaan tidak hanya terbatas pada pendanaan segar saat initial public offering (IPO), klub sepak bola yang sudah tercatat dapat menerbitkan sahamnya kembali kepada publik melalui rights issue, sehingga melalui pasar modal klub sepak bola dapat memperoleh pendanaan yang berkelanjutan. Jika memiliki porsi kepemilikan publik lebih dari 40%, klub bola akan mendapat insentif penurunan tarif pajak PPh Badan sebesar 3%. ”Ketika perusahaan menjadi public listed company, exposure atas klub sepak bola tersebut tentu akan meningkat karena semakin banyak yang mengekspos seperti analis, media, investor dan pihak-pihak lain. Hal ini menjadi sarana promosi dan meningkatkan mitra strategis atau sponsorship bagi klub,” ujarnya di Jakarta, Senin (29/3/2021).

Selain itu klub sepak bola juga dapat memperoleh manfaat lain diantaranya meningkatkan profitabilitas atau efisiensi, dan juga memperkuat tata kelola perusahaan. Selain itu, supporter juga dapat turut memiliki klub sepak bola favorit mereka, sehingga engagement antara para supporter dan klub sepak bola dapat meningkat. Setelah PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA) perusahaan yang mengelola klub sepakbola Bali United resmi dicatatkan dan diperdagangkan di BEI pada 17 Juni 2019 dan menjadi emiten bola pertama yang melakukan IPO di Asia Tenggara, menurut Inarno sebenarnya ada beberapa klub sepak bola di Indonesia yang telah menunjukkan minat untuk dapat melakukan IPO dan memanfaatkan pasar modal sebagai sarana untuk bertransformasi dan bertumbuh.

Hal tersebut, kata dia, terbukti dengan adanya satu klub sepak bola yang melakukan pendaftaran menjadi perusahaan tercatat ke bursa pada tahun 2020. Namun, kondisi ekonomi dan pasar modal yang dinamis memberikan dampak diperlukannya persiapan yang lebih komprehensif untuk masuk ke pasar modal. ”Kami berharap seiring dengan kondisi pemulihan perekonomian dan pasar modal yang semakin kondusif tahun ini, serta adanya kemungkinan akan dimulainya kembali kompetisi liga sepak bola di Indonesia, maka rencana klub-klub sepak bola tersebut untuk menjadi perusahaan tercatat di BEI akan segera dapat terealisasi,” ungkap dia.

Oleh karena itu, adanya kabar rencana IPO PT Persis Solo Saestu (PSS) yang dikelola oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dan putra bungsu Presiden Jokowi Kaesang Pangarep disambut antusias oleh pihak bursa. ”Informasi tentang rencana IPO dari Persis Solo merupakan kabar yang menggembirakan dan tentunya kami menyambut baik atas rencana tersebut. Kami dengan senang hati akan memberikan dukungan melalui diskusi dan sharing informasi mengenai IPO dan menjadi perusahaan tercatat di BEI,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Nyoman menyampaikan bahwa sampai dengan 26 Maret 2021, BEI telah memiliki 24 pipeline saham, namun belum terdapat klub bola di dalamnya. Untuk itu, dia berharap Persis Solo dan klub-klub sepak bola lainnya di Indonesia dapat segera menjadi perusahaan publik dan tercatat di BEI, sehingga memberikan kesempatan para supporter klub tersebut untuk ikut memiliki sahamnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Persis Solo Saestu Kaesang Pangarep menyatakan bahwa dirinya memiliki mimpi besar Persis Solo melantai di bursa saham atau menjadi perusahaan terbuka (Tbk). Putra Presiden Joko Widodo itu ingin Persis Solo menjadi klub profesional dan dimiliki publik secara luas untuk menyokong kebutuhan keuangan klub. Kaesang pun tak sungkan menyebut klub sepak bola Bali United sebagai inspirasi bagaimana sebuah klub sepak bola di Indonesia melakukan IPO. Bali United menjadi pioneer klub sepak bola yang melantai di bursa saham. Belakangan Kesang juga sudah berkonsultasi dengan petinggi Bali United seperti Pieter Tanuri dan Yabes Tanuri terkait keinginan Persis Solo IPO. “Sekarang kan kami melihat Bali United sebagai kakak, sebagai pembimbing. Soal melantai di bursa saham ya harus, harus itu,” kata Kaesang.

Pemilik usaha Sang Pisang itu berharap penawaran perdana saham Persis Solo dapat terlaksana sebelum Persis berusia satu abad pada 2023 mendatang. “Kami ingin warga Solo juga dapat memiliki Persis,” ujar dia.

Sedangkan, Menteri BUMN Erick belum lama ini membeli saham Persis Solo sebanyak 20%. Jejak Erick di dunia sepak bola memang sudah luas. Sebelumnya, Erick juga mengakuisisi salah satu klub sepakbola asal Inggris, Oxford United bersama dengan Anindya Bakrie, calon ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Erick juga sempat membeli saham Inter Milan pada 2013. Namun jejak kepemilikan Erick di Inter hanya berlangsung enam tahun sampai 2019. Pada 2019, Erick juga melepas posisinya sebagai Wakil Komisaris Utama PT Persib Bandung Bermartabat, perusahaan pengelola klub Persib Bandung. Alhasil untuk kepemilikan saham PT PSS, yakni Kaesang menguasai 40% saham, disusul Kevin Nugroho sebanyak 30% yang juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT PSS, lalu Erick Thohir menguasai 20%. (sd)

Labels: Ekonomi

Thanks for reading BEI Ajak Klub Sepak Bola Go Public seperti Bali United. Please share...!

Back To Top