BPOM Siaga Percepatan Penanganan Covid-19

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito (kiri) menyerahkan izin izin penggunaan dalam kondisi darurat atau emergency use authorization (EUA) vaksin Covid-19 kepada Bio Farma di Kantor BPOM, Jakarta, Senin 11 Januari 2021



JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan pihaknya terus berkomitmen dalam melakukan percepatan penanganan Covid-19 di Tanah Air. Berbagai langkah sudah dilakukan mulai awal pandemi Maret 2020 hingga saat ini.

Plt. Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif (Napza) BPOM, Togi Hutajulu mengatakan, pengembangan laboratorium Biohazard BPOM merupakan bentuk komitmen dalam percepatan penanganan Covid-19. "Untuk itu BPOM tahun lalu sudah melakukan renovasi dan meng-update BPOM jadi laboratorium yang memenuhi kriteria dan fasilitas Biosafety Level 2 (BSL-2) plus yang sesuai untuk pengujian sampel Covid-19," katanya di acara Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana Tahun 2021 Hari ke-4 secara virtual, Selasa (9/3/2021).

Laboratorium ini juga untuk pengujian produk berisiko tinggi lain adalah karsinogenik, mutagenik, teratogenik, dan bioterorisme. Dengan adanya pandemi Covid-19 ini pihaknya meningkatkan dari yang belum memiliki, akhirnya menjadi memiliki laboratorium PCR. "Kita juga meningkatkan kompetensi mulai dari analisisnya, petugas laborotariumnya, dengan memberikan pelatihan secara nasional maupun pelatihan dari pihak BPOM Australia, sehingga kompetensinya terkualifikasi dalam pengujian," urai dia.

Sementara untuk pengadaan dan penyiapan vaksin di Indonesia dikatakan menggunakan dua jalur yakni bilateral (kerja sama industri farmasi) dan multilateral. Hasil bilateral adalah Coronavac (vaksin jadi dari Sinovac) dan Vaksin Covid-19 (vaksin mentah dari Sinovac yang diolah di Bio Farma). Keduanya telah mendapatkan emergency use authorization (EUA) dari BPOM. "Sementara untuk jalur multilateral adalah AstraZeneca yang dalam proses pendampingan BPOM agar bisa diberikan kelulusan produk yang wajib dikeluarkan pihak otoritas obat," jelas dia.

Setiap batch produksi vaksin yang akan digunakan harus mendapat certificate of release dari BPOM. Pengujian dilakukan di Pusat Pengembangan dan pengujian dan Makanan BPOM yang sudah mendapat prakualifikasi dari WHO. “Dalam proses pemberian persetujuan EUA vaksin di BPOM mengikuti standar WHO penerbitan EUA vaksin dalam masa pandemi covid-19. Evaluator BPOM melibatkan Komnas penilai obat, tim ahli vaksin, ITAGI, dan klinisi,” tutup dia. (sd)

Back To Top