Jelang World Superbike 2021, Kemenparekraf Perkuat Penerapan CHSE

Sub Koordinator Strategi Even Daerah Kemenparekraf, Vicky Apriansyah (dua kanan) didampingi Chief Executive Officer Gudang Mahakarya Indonesia-Festival Bau Nyale, Lalu Chandra Yudistira, dan Chief Executive Officer Pesona Khazanah Ramadhan, Andre Satriawan (kiri) saat menjadi pembicara dalam sosialisasi program Cerpen Kemenparekraf di Hotel Sheraton, Senggigi, Lombok Barat, Kamis, 10 November 2021



LOMBOK BARAT (IndonesiaTerkini.com)- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mencanangkan beragam inisiatif untuk mendorong kebangkitan para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif. Salah satunya, melalui kampanye program Cerita Protokol CHSE Event (Cerpen).

Sub Koordinator Strategi Event Daerah Kemenparekraf, Vicky Apriansyah, mengatakan, kampanye program Cerpen dirancang untuk mendorong pariwisata dan industri kreatif, sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat, dengan mengadopsi protokol kenormalan baru di tengah pandemi Covid-19. "Protokol CHSE Kemenparekraf sendiri memberikan panduan mengenai tiga aspek penyelenggaraan acara, yaitu sebelum (pre), selama (during), dan setelah (post) acara, yang mencakup penerapan protokol kesehatan 3M. Ketiga aspek tersebut wajib diikuti oleh penyelenggara, penonton, maupun pengisi acara," kata Vicky,di acara sosialisasi program Cerpen, di Hotel Sheraton, Senggigi, Lombok Barat, Kamis (10/11/2021).

Vicky menjelaskan, terkait persiapan gelaran event internasional World Superbike (WSBK) 2021 dan MotoGP 2022 di Sirkuit Mandalika, juga dibarengi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, sesuai dengan sertifikasi CHSE (Cleanliness, Health, Safety dan Environment Sustainability). "Kalau kami melihat sejauh ini kesiapan penerapan CHSE sudah mencapai 80%,” jelasnya.

Viky menambahkan, sebelum gelaran event internasional berlangsung dipastikan daerah sudah sangat siap. Salah satunya, terkait penyelenggara event. Pasalnya, penerapan protokol kesehatan harus dijaga agar masyarakat tidak lengah. "Harapan kami, seluruh event tentunya bisa terselenggara kembali dan membangkitkan pariwisata di Lombok, NTB. Tentunya, dengan penerapan protokol CHSE yang ketat. Perlu kerja sama untuk sukseskan penerapan CHSE. Pada masa pandemi ini pelaku pariwisata selain menerapkan CHSE juga harus adaptif, kreatif-inovatif, dan kolaboratif," tandasnya.

Sementara itu Chief Executive Officer Gudang Mahakarya Indonesia Penyelenggaran Festival Bau Nyale Chandra Yudistira mengatakan penyelenggaran event sebelum dan sesudah pandemi jauh berbeda. "Sebelum pandemi berbagai event membutuhkan sebanyak mungkin yang datang. Sedangkan selama pandemi, membuat event tetapi dibatasi. Kalau dari sisi kemasan event lebih enak dan praktis karena hanya mengontrol jumlah yang sudah pasti di sebuah event,” ujarnya.

Namun, lanjut Chandra, selaku penyelenggara event saat berkegiatan dibatasi ada rasa berbeda dan kurangnya. Pandemi harus diakui mengubah pola berkegiatan dengan melalui akun-akun event secara daring. "Khusus saat penyelenggaraan Bau Nyale lalu agenda dialog interaktif dengan standar protokol kesehatan, peserta hanya 50 orang, berjarak, semua peserta harus rapid test dan swab PCR,” jelasnya. (ym)

Labels: Gaya Hidup

Thanks for reading Jelang World Superbike 2021, Kemenparekraf Perkuat Penerapan CHSE. Please share...!

Back To Top