Pola Pengasuhan Mengikuti Anak Tak Selalu Salah

Direktur Jakarta Child Development Center (JCDC), Nadia Emanuella Gideon, M Psi memberikan donasi berupa alat-alat disabilitas senilai Rp100 juta kepada kaun disabilitas



JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Pola pengasuhan mengikuti kemauan anak dipandang buruk. Padahal, bila tahu triknya, mengikuti kemauan anak bisa jadi pintu masuk untuk memahami dunia anak dan membuat anak menjadi lebih baik.

“Pola pengasuhan pada anak bisa menggunakan pendekatan yang compassion and caring, karena sesungguhnya ‘there is no greater feeling than being understood – Dr Stanley Greenspan’, bahwa setiap anak sebagai individu dapat berkembang dengan penerimaan dan interaksi yang hangat serta menyenangkan dengan orang di sekitarnya, terutama orang tua,” kata pendiri dan Direktur Jakarta Child Development Center (JCDC), Nadia Emanuella Gideon, M.Psi.

Nadia berbicara dalam talkshow tentang pengasuhan anak bertema “Pola Pengasuhan Anak: Anak Mengikuti Orang Tua atau Orang Tua Mengikuti Anak?”. Acara digelar untuk merayakan Hari Jadi JCDC ke-2 pada 10 Desember 2021 di kantor JCDC di Kebon Jeruk, Jakarta dan disiarkan secara daring melalui Instagram Live JCDC.

Perayaan hari jadi ke-2 ini juga dimaknai dengan bekerja sama bersama Alfamart dalam program #WECARE untuk memberikan donasi berupa alat-alat bantu disabilitas sejumlah total Rp 100 juta kepada kaum penyandang disabilitas, Selain itu, Perayaan hari jadi ke-2 ini juga dimaknai dengan menghadirkan course DIR Floortime bersertifikasi internasional, dan membagikan tote bag bagi para klien JCDC yang didesain khusus oleh salah satu anak penyandang autisme di JCDC.

Metode DIR Floortime

Lantas, pola pengasuhan yang bagaimanakah yang tepat? Apakah anak mengikuti orang tua atau orang tua mengikuti anak? “Pola pengasuhan yang tepat adalah dengan menggunakan pemahaman dari metode DIR Floortime, yaitu kita perlu melihat sudut pandang anak namun terus mendorong mereka berkembang,” ungkap Nadia.

Apa yang dimaksud metode DIR Floortime atau Development, Individual Differences Relationship Based? “DIR Floortime adalah sebuah pendekatan yang mendorong proses perkembangan anak (Development) dan memahami serta mendorong keunikan individu (Individual Difference), dengan didasari proses yang menyenangkan dan berbasis interaksi-relasi-koneksi antara anak dengan orang di sekitarnya untuk mendorong potensi anak terpenuhi,” jelas Ms. Nadia.

Pendekatan ini, kata Ms. Nadia, harus memahami bahwa setiap individu anak berbeda. Masing-masing anak memiliki minat atau kemauan berbeda. “Dengan menggunakan metode DIR Floortime, maka kita menggunakan minat anak untuk masuk ke dunia mereka sehingga mereka bisa terhubung dengan kita dan pada akhirnya kita bisa membawa mereka ke hal-hal yang ingin kita tanamkan, tapi bukan berarti kita mengikuti semua kemauan anak. Kita mengikuti itu hanya sebagai cara untuk pendekatan ke anak saja, karena batasan, nilai-nilai, dan aturan tetap perlu diterapkan secara konsisten,” ujar Ms. Nadia.

Mengapa orang tua harus masuk dulu ke dunia anak? “Hubungan adalah hal yang penting bagi manusia, dengan hubungan manusia berkembang dan belajar, untuk itu memahami sudut pandang atau minat anak sangat penting dalam interaksi orang tua dan anak, selain itu menjalin hubungan adalah kebutuhan manusia, manusia perlu untuk dipahami dan dimengerti,” ujar Ms. Nadia.

Dalam kasus anak disabilitas, kata Nadia, metode sama harus dilakukan. “Ikuti dulu minat anak dengan disabilitas supaya orang tua terkoneksi ke dunia anak. Setelah itu, pelan-pelan masukan hal-hal yang kita mau anak pelajari sehingga anak akhirnya mau mengikuti hal yang orang tua berikan,” tandas Ms. Nadia. (ym)

Labels: Gaya Hidup

Thanks for reading Pola Pengasuhan Mengikuti Anak Tak Selalu Salah. Please share...!

Back To Top