Kunci CCI Bertahan 21 Tahun Menekuni Bisnis Kreatif

Uti Rahardjo, Pendiri dan CEO Creative Center Indonesia (kiri)



JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Resilience (resiliensi) adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit. Kata ini cukup penting mewakili isi buku ‘Kreatif Berbisnis Kreatif – 21 Tahun Merawat Bisnis Kreatif,’ yang ditulis oleh Uti Rahardjo, Pendiri dan CEO Creative Center Indonesia (CCI), perusahaan konsultan marketing communication (marcomm). Buku setebal 136 halaman ini, menceritakan suka duka, pengalaman memulai bisnis bersama tim dan sejumlah klien tingkat dunia dari wanita kelahiran Solo itu. Uti adalah  istri Rahardjo Satrio Unggul, dan ibu dari dua orang putra-putrinya.

Dicuplik dari bagian buku ini, Uti menggambarkan perihal daya tangguh, Sikap maju tak gentar ini kemudian diserap oleh armada kami, sehingga nilai yang terbangun sejak awal di Creative Center adalah ketangguhan.

Resilience menjadi satu kekuatan yang membuat Creative Center bisa bertahan hingga lebih dari 20 tahun. Istilah yang sekarang populer adalah G. R. I. T  (Guts, Resilience, Initiative dan Tenacity), yang berarti memiliki nyali, tahan banting, penuh inisiatif dan persisten. Hal yang menarik dari isi buku ini, selain bercerita secara mengalir, tanpa bermaksud menggurui. Buku bernuasa jeruk – oranye ini memberikan pengalaman batin, bagaimana perjalanan karier Uti, lulusan Psikologi UI, yang sebelumnya tidak percaya diri membangun sejumlah bisnisnya, justru bangkit menjadi semakin percaya kemampuan dirinya, berpikir  solo karena CCI yang sebelumnya bernama Creative Center.

Selaras namanya, selama 21 tahun memimpin Creative Center, suatu biro iklan yang lahir tanpa persiapan yang matang, justru  akhirnya  mampu menangani sejumlah klien di berbagai bidang mulai dari institusi perbankan; perusahaan (korporasi) swasta dan BUMN termasuk di dalamnya perusahaan bergerak di bidang otomotif dan transportasi; kebutuhan pribadi (personal care);  Lembaga Swadaya Masyarakat;  produsen makanan jadi dan pangan kemasan serta produk olahan, resto; pengelola wisata belanja eceran; juga rumah sakit; lembaga pendidikan; dan masih banyak lagi.

“Proses menggarap buku ini, sekitar lima tahun karena saya selalu merasa ‘haus’ untuk terus menyempurnakannya, sampai akhirnya buku ini selesai dan dicetak di Jakarta,  November 2021,” ujar Uti yang sudah ‘kenyang’ belajar sambil praktek di sejumlah biro iklan ternama Indonesia macam BBDO, JWT Adforce, Saatchi dan Saatchi Advertising, dan juga pernah bekerja untuk McCann Erickson,” jelas Uti yang kini juga menjadi pendiri perusahaan properti Griya Cinere Hijau dan juga galeri Batik Amandari.

Perempuan peraih Entrepreneurial Winning Women 2011 dari Ernst and Young dan penerima Anugerah Perempuan Indonesia (API) tahun 2012 dari Woman Review Magazine ini selama 21 tahun berkarie di CCI selalu melakukan pekerjaannya dari rumah. Namun. Dia  bersyukur telah mampu beradaptasi dalam situasi rumah yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan bekerja di kantor. “Pasti saya menghadapi tantangan yang sangat bertubi-tubi, termasuk di masa pandemi di mana banyak sektor usaha menghadapi banyak kesulitan. Begitu juga dengan kami, harus menghadapi tantangan yang dikhawatirkan dapat merontokkan kinerja yang sudah dibangun selama bertahun-tahun,” ungkap Uti.

Itu sebabnya diperlukan kreativitas yang tinggi, untuk bisa survive membangun tim yang solid, mengatur cash flow perusahaan yang ketat, serta mempertahankan konsumen atau klien agar bisa terus beradaptasi, sehingga kita tetap dapat menghasilkan revenue yang signifikan. CCI telah melampaui masa pasang surut yang memperkaya hidup dengan pengalaman yang tidak ternilai harganya.

Salah satu buktinya, kendati mengaku sebagai bagian dari generasi digital-analog, namun Uti dan timnya yang juga didukung oleh mereka yang mulai memahami ranah digital dengan sejumlah aplikasinya, dapat membuktikan, jika CCI ternyata bisa bertahan di tengah situasi yang sangat kompetitif, dengan kemampuan anak muda dengan digital  mindset-nya.

Bagi Uti, menjalankan bisnis itu bukan merancang sesuatu secara sempurna, melainkan mengalir saja sebagai suatu proses. “Business is not sains, not art, but practice,“ demikian jelas praktisi bisnis kreatif yang ingin membagikan pengalamannya dalam berbisnis kepada para generasi milenial, melalui goresan penanya dalam buku ini. Dalam derap waktu, Uti merasa menjadi generasi yang beruntung, menyaksikan dan memegang kendali bisnis melampaui masa tahun 2000, di mana peran internet, komputer serta teknologi digital belum secangggih seperti saat ini. ”Dengan modal pernah bekerja di berbagai perusahaan advertising selama lebih dari 10 tahun itu, saya memulai pendirian perusahaan Creative Center setelah menang penawaran tender salah satu perusahaan perbankan asing di Indonesia,” ujarnya mengenang.

“Saya juga mencoba leading the team dengan mengatakan kami harus memahami kebutuhan mereka (klien), karena mereka juga dihadapkan pada tantangan kompetisi yang tinggi.  Jadi, etos kerja yang dibangun adalah problem solving. Setelah saya belajar tentang creativity, ternyata creativity juga pada dasarnya bertujuan menjadi problem solving, “ papar Uti.

Akhirnya sebagai seorang dirigen, Uti mampu menampilkan orkestra yang apik, sehingga sejumlah klien menaruh rasa percaya terhadap kapabilitasnya Dia menjadi terbiasa untuk bekerja sangat cepat, mematuhi deadline ketat dan menghasilkan pekerjaan output sebaik mungkin. “Kuncinya adalah kami tidak pernah mengatakan tidak bisa kepada klien, karena  pada dasarnya kita tidak pernah tahu, mana yang benar-benar kita tidak bisa lakukan sebelum kita mencoba. Di situlah yang kemungkinan membuat CCI mampu survive dalam 21 tahun ini, mencoba dulu apapun tantangan yang ada di depan mata,” dia menyimpulkan. (sd)

Labels: Ekonomi

Thanks for reading Kunci CCI Bertahan 21 Tahun Menekuni Bisnis Kreatif. Please share...!

Back To Top