Pemerintah Belajar dari Penanganan Covid-19 untuk Tangani Kasus TBC

Seorang guru mengecek suhu tubuh siswa sebelum masuk ke ruang kelas di SD Negeri 10 Kendari, Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu, 8 September 2021



JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Didik Budijanto mengatakan, dalam penanganan kasus menular seperti tuberkulosis (TBC), pemerintah banyak belajar dari strategi penanganan pandemi Covid-19. Mulai dari kesiapan tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan hingga alat diagnostik.

Menurutnya, investasi penanggulangan TBC yang lebih baik tentunya dapat membangun kesiapsiagaan pandemi dan infeksi menular lainnya di masa mendatang. “Respons penanganan TBC membutuhkan pendanaan, untuk menutupi kesenjangan sumber daya dan mempercepat kemajuan untuk mengakhiri TBC terutama dalam menghadapi pandemi Covid-19, kita bisa mengambil peluang dari investasi Covid-19 terkait infrastruktur di fasilitas kesehatan untuk layanan kesehatan,” ucap Didik pada konferensi pers dalam rangka Hari Tuberkulosis Sedunia 2022, yang bertema "Investasi Untuk Eliminasi TBC, Selamatkan Bangsa" secara virtual, Selasa (22/3/2022).

“Momentum ini kami manfaatkan untuk memperkuatkan 3T (testing, tracing, treatment) Covid-19 terhadap TBC yaitu testing atau deteksi, tracing atau pelacakan dan treatment atau pengobatan di tingkat masyarakat,” sambungnya.

Dikatakan Didik, upaya 3T ini untuk efisiensi serta meningkatkan kualitas perawatan dan pencegahan TBC serta mendukung penelitian dan pengembangan untuk mencapai SDGs atau Sustainable Development Goals. Hal yang dipelajari dari pandemi Covid-19 yaitu transformasi digital yang cepat dan adaptif terutama dalam menjawab kebutuhan utama bidang kesehatan di masa pandemi. Transformasi digital ini, lanjut Didik, akan dimanfaatkan oleh Kemenkes untuk kemajuan dari global digital health dengan menggunakan teknologi berbasis ponsel pintar untuk menemukan kasus TBC secara dini dan memutus rantai penularannya. Adapun contoh praktik baik aplikasi SOBATTB untuk skrining gejala TBC pada masyarakat populasi yang berisiko dan juga kontak erat pada pasien TBC. “Kami juga berencana akan menyediakan skrining besar-besaran dan ini memang sedang diproses. Insya Allah mudah-mudahan berhasil,” ujarnya.

Skrining besar-besar ini yakni memanfaatkan peralatan X-ray Artificial Intelligence (IA) untuk memberikan hasil diagnosis yang lebih cepat dan efisien termasuk directional testing bagi penderita diabetes agar mereka mendapatkan pengobatan TBC sedini mungkin. “Kebiasaan baik kita kerjakan selama masa pandemi Covid-19 harus dipertahankan betul yaitu mencuci tangan dengan sabun, memakai masker, menjaga jarak, menjaga etika batuk, dan menjalankan pola hidup bersih dan sehat. Dengan kerja keras dan kerja sama yang baik dari semua pihak eliminasi TBC tahun 2030 akan bisa tercapai,” tandasnya.

Didik juga menambahkan bahwa Indonesia menjadi presidensi G-20 merupakan momentum memfokuskan upaya mengakhiri TBC secara global. “Momentum Indonesia diberikan kepercayaan untuk menjadi Presidensi G-20 2022 menjadi kesempatan untuk mengfokuskan kembali upaya untuk mengakhiri tuberkulosis (TBC) secara global,” ucapnya.

Adapun upaya yakni, melalui untuk mempertahankan aliran keuangan yang ada mengadopsi metodologi pembiayaan yang lebih inovatif di tingkat global, nasional, regional, dan komunitas. (ym)

Labels: Kesehatan

Thanks for reading Pemerintah Belajar dari Penanganan Covid-19 untuk Tangani Kasus TBC. Please share...!

Back To Top