Fase Menyusui Berperan Penting Cegah Stunting pada Anak

Presiden Joko Widodo meninjau program percepatan penurunan stunting di Desa Kesetnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kamis, 24 Maret 2022



JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Fase menyusui atau saat bayi berusia 0 hingga 6 bulan memegang peranan penting dalam pencegahan stunting pada anak. Stunting harus menjadi kondisi yang patut diperhatikan dan diwaspadai sehingga pencegahannya perlu dilakukan sejak dini.

“Kebutuhan gizi ibu menyusui itu konsumsinya harus lebih banyak dari ibu hamil untuk mencapai 6 bulan ASI eksklusif dan bayinya tetap dalam kondisi yang baik. Pada saat ibu menyusui secara eksklusif, bayi itu bergantung sepenuhnya pada ibunya, sehingga pada masa ini perlu diperhatikan gizi ibu. Apalagi saat ini di Indonesia, prevalensi ibu hamil yang menderita kurang energi kronis (KEK) dan anemia tinggi,” kata Guru Besar Bidang Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Prof. Sandra Fikawati, Rabu (6/4/2022).

Sandra Fikawati mengatakan, ibu yang sedang dalam masa menyusui memerlukan makanan yang bergizi agar dapat memberikan gizi yang optimal kepada bayi melalui air susu ibu (ASI). Fase menyusui ini berperan penting dalam mencegah stunting pada anak mengingat sebanyak 23 persen bayi sudah terlahir stunted sehingga perlu upaya yang lebih keras pada saat menyusui guna mencegah kondisi ini berlanjut. Mengingat pentingnya ibu menyusui dalam mencegah stunting, Fika menyarankan agar fase ini menjadi perhatian Pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan. Sebagaimana diketahui bahwa Kementerian Kesehatan memiliki program khusus dalam rangka pencegahan stunting yang dinamakan Intervensi Gizi Spesifik. Dalam program Intervensi Gizi Spesifik terdapat sembilan upaya yang dilakukan untuk mencegah stunting pada saat sebelum bayi lahir dan setelah lahir. Hanya saja menurut Fika, perlu ditambahkan upaya pemberian asupan gizi yang optimal bagi ibu menyusui agar jangan sampai kecolongan menjadi stunting di saat mendapat ASI eksklusif enam bulan.

“Berdasarkan data sebanyak 23% bayi ketika lahir sudah dalam kondisi stunted, itu berarti dia harusnya mengejar ketinggalan karena sudah terlahir stunted. Maka ketika si ibu menyusui harus memberikan gizi yang memadai kepada si bayi, ibu membutuhkan protein dan gizi yang cukup pula untuk dirinya. Jadi ini ada missed dari program Kemenkes yang tidak memperhatikan pada fase menyusui,” jelas Fika.

Di sisi lain, Fika mengapresiasi program Kementerian Kesehatan dalam upaya pencegahan stunting seperti di antaranya pemberian tablet penambah darah bagi remaja putri dan pemberian makanan tambahan protein hewani bagi baduta. Hanya saja, dibutuhkan poin tambahan pada fase menyusui agar program tersebut lebih komprehensif. Fika juga menyarankan agar Pemerintah memberikan subsidi untuk memudahkan akses masyarakat terhadap makanan yang mengandung protein hewani. “Saya juga menyarankan agar pemerintah mensubsidi protein hewani, termasuk di dalamnya susu buat anak-anak. Protein hewani berbentuk susu ini sangat penting bagi pertumbuhan anak. Selain mengandung insulin like growth factor (IGF-1) yang berperan penting dalam pertumbuhan tinggi badan, susu juga mudah disajikan, praktis disiapkan, dan merupakan makanan alami yang disukai anak. Harga protein hewani di negara maju relatif sangat murah dibandingkan di Indonesia. Tanpa adanya subsidi ini maka akan sulit mencegah stunting,” urainya.

Sebelumnya, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan persoalan stunting harus diatasi secara serius mengingat sekitar 2 hingga 3 persen dari Pendapatan Domestik Bruto atau PDB “hilang” per tahunnya akibat stunting. Hal ini disebabkan stunting juga berisiko menurunkan kualitas sumber daya manusia suatu negara. Hasto menyebutkan salah satu penyebab utama stunting yaitu kurangnya asupan gizi dalam jangka panjang. “Penyebab utamanya itu asupan gizi yang kurang secara kronis terus menerus dan jangka panjang, (ibunya) sering sakit-sakitan, dan (pola) asuhannya tidak baik. Ibu hamil yang tidak sehat, anemia, kekurangan vitamin D, kekurangan asam folat itu peluang anaknya stunting jadi lebih besar. Begitu juga ibu hamil yang terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering hamil, terlalu banyak anaknya, ini juga menjadikan faktor stunting,” paparnya.

Untuk mengatasi stunting, Hasto menambahkan BKKBN merencanakan program konvergensi yang memungkinkan sinergisitas antar kementerian dan lembaga terkait. “BKKBN mengerahkan namanya konvergensi yang melibatkan Kementerian dan Lembaga terkait. Misalnya Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) memperbaiki sanitasi, Kementerian Pertanian menyediakan pangan, Kementerian Kesehatan memfasilitasi penelitian dan pelayanan, dan lainnya,” ujarnya.

Di samping kolaborasi antar kementerian dan lembaga pemerintah, kata Hasto, kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat terkait kebutuhan nutrisi bayi melalui ketercukupan gizi ibu juga perlu digalakkan demi tercapainya generasi bangsa yang berkualitas dan berdaya saing. Pemerintah akan memastikan layanan dasar bidang kesehatan yang dapat menurunkan prevalensi stunting melalui Rancangan Kerja 2022. (ym)

Labels: Gaya Hidup

Thanks for reading Fase Menyusui Berperan Penting Cegah Stunting pada Anak. Please share...!

Back To Top