Generasi Z Makin Menggemari Dunia Virtual Metaverse

Kalangan anak muda terutama generasi Z (Gen-Z) atau i-generation yang lahir antara tahun 1996- 2010 menikmati dunia virtual metaverse yang mendekati nyata tersebut. (Foto: Dok)



JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Advisia bersama dengan WIR Global meluncurkan White Paper Project mengenai metaverse untuk mengetahui lebih dalam persepsi generasi Z (Gen Z) atau i-generation yang lahir pada 1996- 2010 soal dunia virtual ini.

"Project ini juga berupaya menjelajahi kegunaannya secara optimal serta menghasilkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti bagi perusahaan," kata Founder Advisia, Sandy Permadi, dalam keterangan tertulisnya Sabtu (14/5/2022).

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 62,9% Gen Z memiliki minat terhadap kepemilikan alat realitas virtual. Sementara 3,76% responden telah memiliki alat realitas visual. Dari hasil penelitian tersebut, terdapat 69,35% Gen Z yang disurvei menunjukkan sikap positif terhadap metaverse serta 65,81% bersedia mengeluarkan uang untuk metaverse. Penelitian dilakukan dengan mengambil sampel dari 194 responden berusia 18-24 tahun.

Sandy Permadi menyampaikan, pihaknya berharap agar perusahaan-perusahaan memanfaatkan respons positif Gen Z terhadap metaverse dengan tepat. "Harapannya, mereka dapat melakukan penetrasi ke metaverse serta mengadopsinya dengan lebih optimal," kata Sandy.

Menurut Sandy, dengan banyaknya permasalahan yang ada, metaverse diharapkan dapat membawa kemajuan di berbagai sektor, seperti real estate, pendidikan, layanan keuangan, ritel, hiburan, otomotif, barang konsumsi, dan lainnya.

Sandy mengatakan ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk memanfaatkan masa depan. Di antaranya melakukan penilaian ekstensif, menerapkan pendekatan berbasis fakta, dan mengembangkan strategi memasuki pasar metaverse. "Selain itu, mengembangkan pengetahuan pasar dan keahlian operasional untuk memanfaatkan latar belakang demografi, teknis, dan hukum yang menguntungkan agar berhasil masuk ke metaverse," jabarnya.

Metaverse yang dibalut teknologi 3D kerap diperbincangkan karena memungkinkan seseorang mengalami dunia nyata melalui virtual tanpa bingkai apa pun. Metaverse memiliki peluang tak terbatas hampir seluruh bidang, seperti bisnis, ekonomi, pendidikan, teknologi informasi (TI), dan hiburan. Kata metaverse sendiri hingga kini belum bisa didefinisikan secara pasti. Seorang penulis kelahiran Maryland, Amerika, Neal Stephenso yang pertama kali menciptakan istilah metaverse dalam novelnya 'Snow Crash' pada 1992. Mudahnya, meteverse merupakan dunia virtual yang memungkinkan penggunanya saling terhubung. Selain bisa berkomunikasi, bekerja, bermain, antarpengguna, juga dapat bertransaksi layaknya di dunia nyata. Metaverse adalah kombinasi dari beberapa elemen teknologi, termasuk virtual reality, augmented reality (AR), dan video. Kombinasi tiga teknologi tersebut memungkinkan penggunanya berada di dalam dunia digital bernama metaverse. Metaverse bisa berupa konser, konferensi hingga perjalanan virtual keliling dunia. Untuk bisa masuk di dunia virtual 3D ini, pengguna harus mengenakan headset atau kacamata AR. (ym)

Labels: IPTEK

Thanks for reading Generasi Z Makin Menggemari Dunia Virtual Metaverse. Please share...!

Back To Top