Kartu Prakerja Dorong Akselerasi Inklusi Keuangan Digital

(Ki-Ka) Senior Financial Sector Specialist Bank Dunia I Gede Putra Arsana, Kepala Tim Kebijakan Ekonomi Tim Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) Raden Muhamad Purnagunawan, Executive Director PMO of Kartu Prakerja Program Denni Puspa Purbasari, dan host Frida Lidwina, dalam diskusi "Kartu Prakerja: Indonesia’s Digital Transformation and Financial Inclusion Breakthrough" yang diselenggarakan secara virtual, Rabu, 15 Juni 2022



JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Program Kartu Prakerja yang diluncurkan sejak April 2020 tidak hanya menawarkan pengembangan kemampuan atau skill development, namun juga mendorong akselerasi inklusi keuangan digital, dan menjadi sarana transfer dana dari pemerintah ke masyarakat. Sistem penyaluran insentif Prakerja dengan menggunakan digital end-to-end serta melalui mekanisme pembayaran Government-to-Person (G2P) langsung kepada penerima membuat masyarakat non-urban ikut mengalami peningkatan literasi dan inklusi keuangan, karena semakin melatih penggunaan sistem pembayaran elektronik. Fakta ini terungkap dalam diskusi pemaparan hasil studi Bank Dunia dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) bertajuk Kartu Prakerja: Indonesia’s Digital Transformation and Financial Inclusion Breakthrough, Rabu (15/6/2022).

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengapresiasi hasil studi Bank Dunia dan Sekretariat TNP2K. Airlangga menekankan, Kartu Prakerja merupakan kisah sukses pemerintah Indonesia dalam transformasi layanan publik. Baik teknologi digital maupun cara-cara yang biasa dilakukan startup ada di program Prakerja. "Pak Jokowi mencanangkan tol langit. Penggunaan telepon seluler jadi makin luas, dan industri berbasis teknologi informasi tumbuh pesat. Kartu Prakerja memanfatkan semua ini. Ekosistem belajar berbasis kemitraan dengan ratusan pelaku pun dibangun,” kata Airlangga.

Airlangga memaparkan, ratusan pelaku bergabung di ekosistem Prakerja, dengan lebih dari 12 juta penerima Kartu Prakerja dari 514 kabupaten/kota bisa mendaftar, berlatih, menerima sertifikat, melihat lowongan kerja, dan mendaftar kerja secara online, tanpa dibatasi ruang dan waktu. "Kartu Prakerja adalah pionir dari pembayaran G2P melalui financial technology dan ini adalah satu peranan yang diterapkan oleh Kartu Prakerja untuk mengakselerasi inklusi keuangan di tanah air. Program Kartu Prakerja betul-betul sebuah terobosan atau itransformasi digital dan inklusi keuangan Indonesia,” kata Airlangga.

Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari mengatakan, prinsip makin banyak pilihan makin bagus. Hal itu yang menjadi nafas program Prakerja, termasuk dalam memberikan kebebasan peserta memilih rekening yang digunakan untuk pencairan insentif. "Ada pilihan bank, ada pula uang elektronik. Dengan demikian, masyarakat bisa memilih sesuai preferensi masing-masing,” ungkapnya.

Selain itu, merujuk berbagai literatur terkait inklusi keuangan, ternyata untuk menjadi nasabah bank memiliki tantangan tersendiri. Antara lain banyaknya regulasi yang diperlukan serta dibutuhkannya kehadiran fisik dalam proses pembukaan rekening. "Namun, dengan fakta begitu banyaknya masyarakat Indonesia memiliki telepon seluler, membuat kita bisa mengembangkan inklusi keuangan, berkolaborasi dengan lembaga-lembaga keuangan digital yang makin banyak tumbuh. Ini juga terkait banyak bank dan kantor pelayanan publik tidak beroperasi saat puncak pandemi lalu,” urai Denni.

Pujian terhadap inovasi Kartu Prakerja juga datang dari Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Satu Kahkonen. "Kartu Prakerja merupakan kebijakan pasar tenaga kerja aktif dan program bantuan sosial di Indonesia yang pertama kali mengimplementasikan mekanisme pembayaran G2P yang berorientasi pada penerima. Ini merupakan hal yang sangat inovatif,” ungkapnya.

Ada tiga hal yang mendapat perhatian dari Bank Dunia. Pertama, penting untuk menawarkan berbagai pilihan bank dan uang elektronik demi kemudahan akses oleh penerima. Kedua, sebagian besar penerima dengan segera mencairkan bantuan sosial menjadi uang tunai setelah mereka terima. Hal ini menandakan kebutuhan untuk menyediakan lebih banyak pilihan dan mendorong penggunaan platform pembayaran digital. Ketiga, adanya ruang untuk meningkatkan inklusi finansial dengan menyediakan program literasi keuangan untuk para peserta program G2P.

Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, Yose Rizal Damuri menunjuk fakta menarik dari kajian ini adalah bagaimana mayoritas penerima Kartu Prakerja awalnya tidak memiliki akun uang elektronik atau dompet digital. "Hampir 50% baru kali pertama menggunakan rekening uang elektronik dan juga hampir % dari mereka kali pertama memiliki rekening bank. Dari temuan ini kita dapat melihat bagaimana inklusi keuangan telah menunjukkan kemajuan dan pengenalan Kartu Prakerja, terutama inisiatifnya dalam menggunakan mekanisme pembayaran digital G2P banyak membantu dalam aspek inklusi keuangan,” kata Yose. (ym)

Labels: Ekonomi

Thanks for reading Kartu Prakerja Dorong Akselerasi Inklusi Keuangan Digital. Please share...!

Back To Top