Antisipasi Kenaikan Inflasi, BRI Finance Diversifikasi Pendanaan

(Ki-Ka) Direktur Bisnis PT BRI Multifinance Indonesia Primartono Gunawan, Direktur Operasional PT BRI Multifinance Indonesia Willy Halim Sugiardi, Direktur Utama PT BRI Multifinance Indonesia Azizatun Azhimah dan Direktur Manajemen Risiko PT BRI Multifinance Indonesia Ari Prayuwana saat Public Expose di Jakarta, 19 Juli 2022. PT BRI Multifinance Indonesia berencana melakukan penawaran umum Obligasi I BRI Finance Tahun 2022 senilai Rp700 miliar pada 2-4 Agustus 2022



JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk menghadapi kenaikan tingkat inflasi, baik karena kenaikan suku bunga Bank Indonesia maupun terkait harga bahan bakar minyak (BBM). Salah satu upayanya dengan melakukan diversifikasi pendanaan.

Corporate Secretary BRI Finance Taufiq Kurniadihardja mengungkapkan, pihaknya telah mengantisipasi tantangan ekonomi yang akan dihadapi melalui diversifikasi pendanaan. Termasuk salah satunya melalui penerbitan Obligasi I BRI Finance Tahun 2022 yang sudah dicatatkan efektif di Bursa Efek Indonesia sejak 10 Agustus 2022. "BRI Finance juga senantiasa mengupayakan agar maturity dari struktur pendanaan matching dengan struktur pembiayaan, dengan tetap memperhatikan cost of fund agar terjadi ketersesuaian antara pola pendanaan dan pola pembiayaan," ungkap Taufiq, Senin (12/9/2022).

BRI Finance sebelumnya mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 147% atas penerbitan Obligasi I BRI Finance Tahun 2022 senilai Rp 1,03 triliun. Adapun kupon final dari obligasi tersebut untuk tenor 3 tahun sebesar 6,95%.

Taufiq mengakui, kenaikan suku bunga akan berpengaruh kepada kenaikan biaya dana (cost of fund/CoF) perusahaan multifinance secara umum. Namun, setiap perusahaan multifinance memiliki struktur pendanaan (funding) yang berbeda-beda. Ada perusahaan yang memiliki proporsi funding jangka panjang yang lebih besar dibandingkan dengan proporsi funding jangka pendek, begitu juga sebaliknya.

Menurut dia, bagi perusahaan multifinance dengan proporsi funding jangka panjang lebih besar, kenaikan suku bunga acuan tidak berdampak signifikan terhadap besaran kenaikan cost of fund. Oleh karena itu, dengan keberhasilan menerbitkan obligasi pada Agustus lalu, pihaknya lebih optimistis menghadapi tantangan ekonomi. BRI Finance juga bisa fokus menyalurkan pembiayaan konsumer yang memiliki karakteristik tenor panjang dan suku bunga tetap.

Di sisi lain, Taufiq menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM bisa berpotensi meningkatkan rasio pembiayaan bermasalah (non performing finance/NPF). Sebab daya beli masyarakat bisa menurun sehingga memengaruhi kemampuan debitur untuk membayar kewajiban angsuran. Ada potensi sebagian debitur memilih opsi menunda membayar angsuran guna memenuhi kebutuhan yang lebih primer. Oleh karena itu, pihaknya tetap melanjutkan kebijakan prudential financing yang telah dilakukan selama ini secara konsisten. Termasuk memastikan bahwa calon-calon debitur yang mengajukan pembiayaan saat ini telah memperhitungkan kemampuannya untuk membayar angsuran tepat waktu.

"Selain itu, jajaran bisnis juga diminta untuk melakukan monitoring sektor-sektor industri yang terdampak langsung kenaikan harga BBM, dan menjaga kualitas aset pembiayaan esisting," imbuh dia.

Manfaatkan Momentum

Di samping itu, Taufiq mengungkapkan bahwa BRI Finance masih bisa mengambil kesempatan dari kenaikan harga BBM. Kesempatan yang dimaksud adalah terkait penjualan kendaraan listrik. Saat ini BRI Finance sudah menyediakan fasilitas pembiayaan kendaraan berbasis listrik, baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.

"Diyakini bahwa kenaikan harga BBM akan meningkatkan animo dan minat masyarakat untuk shifting membeli dan menggunakan kendaraan berbasis listrik, karena dianggap jauh lebih efisien dalam hal biaya konsumsi dibandingkan kendaraan yang menggunakan BBM. Sehingga berpotensi untuk meningkatkan portofolio produk pembiayaan kendaraan berbasis listrik ke depan," jelas Taufiq.

Sebelumnya, perseroan telah menggandeng PT Smoot Motor Indonesia untuk memperluas pasar pembiayaan sepeda motor listrik. Hal ini seiring dengan aspirasi BRI Finance memperbesar pangsa pasar pembiayaan konsumer sekaligus berperan aktif mendukung program pemerintah dalam peningkatan kendaraan ramah lingkungan. Adapun dilihat dari sisi proyeksi realisasi kinerja, BRI Finance pada tahun ini membidik pembiayaan tumbuh lebih dari 20%. Piutang pembiayaan perseroan mencapai Rp 5,65 triliun atau naik 18% dari posisi Desember 2021. Komposisi pembiayaan konsumer mencapai 68% dari total portofolio, naik dari 59% pada Desember 2021. Kualitas aset pun sangat terjaga dengan rasio NPF net tercatat sebesar 0,16% pada Mei 2022.

Total aset perseroan meningkat hingga mencapai Rp 6,34 triliun pada Mei 2022. Hingga periode yang sama BRI Finance mampu membukukan pendapatan sebesar Rp 327 miliar. Raihan itu meningkat 48,25% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 220 miliar. Sementara laba bersih BRI Finance mencapai Rp 25 miliar pada Mei 2022 atau melesat 126,41% dari periode yang sama tahun lalu yaitu Rp 11 miliar. Hingga penghujung 2022, BRI Finance membidik pembiayaan baru di atas Rp 4 triliun. (sd

Labels: Ekonomi

Thanks for reading Antisipasi Kenaikan Inflasi, BRI Finance Diversifikasi Pendanaan. Please share...!

Back To Top