Dorong Ekonomi Sirkular, Industri Daur Ulang Plastik Kontribusi US$9,2 Miliar dalam 10 Tahun

Justin Wiganda Wakil Ketua Umum ADUPI, industri daur ulang plastik memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) bersama 14 perusahaan daur ulang plastik menggelar FGD nasional di Park Hotel Cawang, Jakarta, untuk memaparkan hasil kajian mendalam tentang supply–demand dan tata kelola bahan baku industri daur ulang plastik.

Eripson M. H. Sinaga, Asisten Deputi Pengembangan Industri Agro, Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kemenko Perekonomian, menegaskan dunia menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah, terutama sampah plastik, yang setiap tahun mencemari lautan, termasuk di Indonesia.

Industri daur ulang plastik memegang peran penting dalam transisi menuju ekonomi sirkular. Namun, sektor ini menghadapi tantangan yang membutuhkan perhatian bersama.

Pertama, terdapat kesenjangan antara pasokan dan permintaan. Saat ini pelaku industri kesulitan memperoleh bahan baku plastik daur ulang yang berkualitas dan bersih (impuritas rendah), agar output berkulitas tinggi dan secara tidak langsung mengurangi penggunaan plastik berbahan baku virgin.

Kedua, muncul peluang dan tren produk ramah lingkungan berbasis material daur ulang seiring meningkatnya kepedulian konsumen. Bisnis ini tidak hanya menjanjikan nilai tambah ekonomi, tetapi juga memberi dampak sosial dan lingkungan positif melalui pengurangan sampah dan penghematan sumber daya alam.

Wakil Ketua Umum ADUPI, Justin Wiganda, memaparkan bahwa industri daur ulang plastik memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional. Selama satu dekade terakhir, sektor ini menyumbang US$9,2 miliar atau rata-rata 0,1% PDB per tahun, dengan devisa ekspor produk daur ulang mencapai US$4,8 miliar, cadangan devisa US$4,2 miliar, serta investasi hijau senilai Rp2,2 triliun.

Secara lingkungan, industri ini menyerap 7,6 juta ton sampah plastik dan menopang 9.729 pekerja terampil, 38.906 pekerja tidak terampil, serta sekitar 1 juta pekerja informal dalam rantai pasok, termasuk 4,2 juta anggota keluarga di ekosistem bank sampah, TPS3R, lapak, dan agregator, selama 2014–2024. Selain itu, industri daur ulang plastik Indonesia berhasil mengurangi 7,692 juta ton sampah plastik dan emisi karbon sebesar 12,8 juta ton CO₂e pada periode yang sama.

Justin mengakui, apabila persoalan keterbatasan bahan baku dibiarkan, hal itu dapat menekan utilitas industri, menurunkan devisa, memicu penumpukan sampah, dan mengurangi lapangan kerja. “Tantangan yang dihadapi industri daur ulang plastik saat ini di Indonesia yaitu masih sulitnya menyortir barang-barang untuk diolah menjadi bahan baku yang sangat dibutuhkan industri daur ulang plastik,” kata Justin, Senin (08/9/2025).

Menurut Justin, jika barang-barang tersebut sudah bisa di-collect dan disortir, itu akan menjadi bahan baku bagi industri daur ulang. Namun saat bahan-bahan itu tercampur, ia berubah menjadi sampah. Di Indonesia, kesulitan terbesar adalah plastik-plastik tersebut belum ter-collect dan tersortir dengan baik. Akibatnya, bahan baku impor kerap dicampur dengan bahan baku lokal karena pasokan lokal masih terbatas.

FGD ini menjadi langkah awal strategis untuk menghimpun masukan langsung dari kementerian/lembaga, pelaku industri, dan asosiasi terkait, sekaligus membangun kolaborasi lintas sektor agar kebijakan yang diambil selaras dengan kebutuhan riil industri dan efektif dalam pengelolaan sampah plastik di Indonesia.

Dengan data yang akurat, kesenjangan pasokan dapat ditutup, kepastian bagi industri meningkat, dan ekonomi sirkular benar-benar menjadi motor pertumbuhan industri hijau Indonesia. Hasil kajian ini diharapkan menjadi fondasi langkah nyata pemerintah dan pelaku usaha dalam membangun ekosistem daur ulang plastik yang berdaya saing, berkelanjutan, dan bermanfaat luas bagi perekonomian nasional.

Dengan penyelarasan rekomendasi awal yang disepakati dalam FGD — oleh kementerian/lembaga, pelaku industri, asosiasi, dan pemangku kepentingan lainnya — diharapkan keberlanjutan industri daur ulang plastik kian kuat dan target ekonomi sirkular nasional tercapai.

“Jadi saya harapkan apa yang kajian-kajian ini juga menjadi dasar untuk mungkin peraturan-peraturan atau regulasi pemerintah yang bisa membantu industri daur ulang dalam membesarkan dan juga memperkuat industri ini. Dan yang paling penting, kita dapat membantu pemerintah dalam mengurangi sampah-sampah plastik tersebut,” tutup Justin. (ym)

Labels: Ekonomi

Thanks for reading Dorong Ekonomi Sirkular, Industri Daur Ulang Plastik Kontribusi US$9,2 Miliar dalam 10 Tahun. Please share...!

Back To Top