Parking Outlook 2026: Parkir Bukan Lagi 'Lahan Tunggu', Centrepark Posisikan Smart Parking sebagai Mesin Mobilitas Kota

(kiri-kanan) Stephen Roy Imantaka, Charles Richard Oentomo, dan Chris Haryadi


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Kemacetan sering dibahas dari sisi jalan — mulai dari kapasitas ruas, rekayasa lalu lintas, sampai disiplin pengendara. Tetapi ada satu titik yang kerap luput, padahal menjadi “gerbang” di awal dan akhir perjalanan: area parkir. Ketika arus masuk-keluar tersendat, antrean bisa menjalar ke badan jalan. Di saat yang sama, pengguna juga menuntut pengalaman yang makin cepat, cashless, dan seamless.

Itulah konteks yang diangkat Centrepark dalam Media Gathering Centrepark 2026 bertema “Parking Outlook 2026: Driving Urban Mobility in Indonesia”. Perusahaan manajemen parkir nasional sekaligus penyedia Smart Mobility Parking Solution itu menempatkan parkir sebagai elemen fundamental dalam membentuk keteraturan, kenyamanan, dan nilai mobilitas perkotaan.

Charles Richard Oentomo, Chief Executive Officer Centrepark, menyebut parkir sebagai “silent engine of urban mobility” yang bekerja di balik layar, namun berdampak langsung pada keteraturan kota. Menurutnya, setiap perjalanan urban dimulai dan diakhiri di area parkir, sehingga kualitas pengelolaan parkir ikut menentukan alur pergerakan dan pengalaman pengguna.

Di level implementasi, Centrepark menegaskan smart parking bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan untuk membangun ekosistem mobilitas perkotaan yang terhubung.

Chris Haryadi, Chief Operating Officer & Acting Chief Financial Officer Centrepark, menjelaskan transformasi pengelolaan parkir dari sistem manual menuju sistem terintegrasi berbasis teknologi. Penerapan automated gate, License Plate Recognition (LPR), parking guidance system, traffic dispatching, control room terpusat, serta layanan cashless dan ticketless menghadirkan proses masuk dan keluar parkir yang lebih tertib, kemudahan dalam mencari ruang parkir, serta pemantauan operasional secara real-time di berbagai lokasi.

Sementara itu, dari sisi model bisnis, Stephen Roy Imantaka, Chief Strategy Officer Centrepark, menilai parkir turut berevolusi dari sekadar cost center menjadi value driver.

Pengelolaan parkir yang terstruktur dan berbasis data, menurutnya, dapat berkontribusi pada peningkatan nilai properti dan kualitas pengalaman pengunjung, sekaligus menopang pengembangan ekosistem smart mobility perkotaan — termasuk kesiapan terhadap adopsi kendaraan listrik.

Centrepark juga memaparkan skala operasionalnya: berpengalaman lebih dari 16 tahun, mengelola 700+ lokasi di 60+ kota di Indonesia, dengan 440.000+ ruang parkir dan 360+ juta transaksi parkir per tahun. Operasional tersebut didukung ekosistem teknologi terintegrasi, mencakup gate system, LPR, vehicle counting, parking guidance, serta centralized control room.

Melalui “Parking Outlook 2026”, Centrepark menyatakan komitmennya untuk memperkuat peran sebagai perusahaan manajemen parkir dan penyedia Smart Mobility Parking Solution, dengan fokus pada mobilitas perkotaan Indonesia yang lebih tertata, nyaman, dan berkelanjutan. (sd)

Labels: Ekonomi

Thanks for reading Parking Outlook 2026: Parkir Bukan Lagi 'Lahan Tunggu', Centrepark Posisikan Smart Parking sebagai Mesin Mobilitas Kota. Please share...!

Back To Top