Anemia Jadi Tanda Kekurangan Zat Besi Sudah di Tahap Parah

Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi, dr Lucky Yogasatria Sp.A (2 kiri), Direktur PT Combiphar Weitarsa Hendarto (tengah), dan Senior General Manager Marketing PT Combiphar Debi Widianti dalam kampanye zat besi di Jakarta


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Anemia bukan tanda awal kekurangan zat besi, namun justru sudah berada di Tingkat yang parah. Cegah dengan mencukupi asupan zat besi sehari-hari.

“Kalau anaknya sudah anemia, artinya sudah mengalami kekurangan zat besi cukup lama,” kata dr Lucky Yogasatria Sp.A, Dokter Spesialis Anak dan Konselor Laktasi.

Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah (haemoglobin/Hb) yang berfungsi mengikat oksigen dan mengantarkan oksigen ke seluruh sel tubuh. Kekurangan Hb karena kurangnya zat besi menyebabkan tubuh lemas, ngantuk, dan sesak nafas. Di situlah peran zat besi sebagai bahan pembentuk Hb.

“Zat besi memiliki peran penting dalam pembentukan sel darah merah serta mendukung fungsi kognitif, termasuk konsentrasi dan kemampuan belajar,” tegas dr Lucky.

Dr Lucky menegaskan, kebutuhan zat besi perlu diperhatikan sejak dini, mulai dari bayi hingga usia dewasa, terutama pada periode pertumbuhan, masa remaja, sebelum kehamilan, hingga selama kehamilan.

“Pada masa kehamilan, kecukupan zat besi sangat penting untuk mendukung kesehatan ibu, pertumbuhan janin, serta membantu menurunkan risiko bayi lahir dengan cadangan zat besi yang rendah, sehingga dapat menekan potensi kekurangan zat besi pada bayi sejak awal kehidupan,” papar dr Lucky.

Pemenuhan Zat Besi

Dr Lucky melanjutkan, pemenuhan zat besi sebaiknya diutamakan dari pola makan bergizi seimbang, namun pada kondisi tertentu suplementasi dapat dipertimbangkan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

“Saat ini, tersedia berbagai pilihan suplementasi zat besi oral, termasuk dalam bentuk Iron Polymaltose Complex (IPC), yang memiliki karakteristik pelepasan zat besi yang lebih terkendali sehingga membantu penyerapan sesuai kebutuhan tubuh, cenderung lebih nyaman di saluran pencernaan, serta dapat dikonsumsi bersama makanan,” ungkap dr Lucky.

Direktur PT Combiphar Weitarsa Hendarto mengatakan kekurangan zat besi masih menjadi tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian lebih luas. Apalagi melihat prevalensi anemia di Indonesia masih tergolong cukup tinggi.

Dia menyebut, berdasarkan Survey Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi anemia tercatat pada anak usia 0-4 tahun 23,8%, 5-14 tahun 16,3% dan pada perempuan secara keseluruhan 18,0% (SKI 2023)1. Pada Ibu Hamil, secara global WHO mencatat kasus anemia sekitar 37%2. Sebagian besar kasus anemia disebabkan karena kekurangan zat besi.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa kekurangan zat besi masih menjadi tantangan kesehatan yang berdampak pada fungsi kognitif, kemampuan belajar, serta potensi tumbuh kembang jika tidak ditangani dengan tepat,” kata Weitarsa dalam kampanye #ZatBesiPasBekerjaCerdas lewat Maltofer.

Ditambahkan Debi Widianti, Senior General Manager Marketing PT Combiphar, “Maltofer hadir sebagai solusi suplementasi zat besi yang dipercaya selama lebih dari 60 tahun di dunia dan menjadi pemimpin pasar di kategori suplementasi oral dalam format cair di segmen anak, serta dipercaya oleh tenaga kesehatan, sehingga memberikan keyakinan lebih bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan zat besi di berbagai tahap kehidupan, termasuk dalam mendukung tumbuh kembang anak.” 

Zat besi dalam Maltofer hadir dalam bentuk Iron Polymaltose Complex (IPC), yaitu zat besi unik dengan mekanisme pelepasan zat besi terkendali sehingga dapat diserap sesuai kebutuhan tubuh.

“Dengan formulasi Iron Polymaltose Complex (IPC) yang bekerja cerdas, Maltofer membantu mengatasi kekurangan zat besi tanpa efek samping saluran cerna yang lebih rendah, seperti konstipasi, mual, dan muntah,” ujar Debi.

Selain itu, Maltofer dapat dikonsumsi kapan saja tanpa perlu jeda dengan makanan dan minuman, berbeda dengan garam besi seperti Ferrous sulfate (Fe²⁺) yang umumnya perlu diberikan dengan jarak 1-2 jam.

“Hal ini membantu meningkatkan kepatuhan dalam konsumsi. Kami berharap Maltofer dapat menjadi solusi yang lebih tepat, praktis, dan berkelanjutan bagi masyarakat dalam menjaga kecukupan zat besi,” tandas Debi. (sd)

Labels: Gaya Hidup

Thanks for reading Anemia Jadi Tanda Kekurangan Zat Besi Sudah di Tahap Parah. Please share...!

Back To Top