 |
| Ki ka: Dekan Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr. dr. Ivan Rizal Sini, GDRM, MMIS, FRANZCOG, SpOG dan Medical Science Director Danone Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK menandatangani kerja sama antara Danone Indonesia dan IPB University terkait program praktik kerja profesi gizi di IPB University, Bogor |
BOGOR (IndonesiaTerkini.com)- Danone Indonesia dan IPB University siap melakukan kerja sama Program Praktik Kerja Profesi Gizi. Kerja sama bertujuan untuk memperkuat SDM bidang kesehatan, khususnya ahli gizi demi mengedukasi masyarakat agar hidup sehat.
Kerja sama dengan Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University ini akan melibatkan mahasiswa Pendidikan Profesi Nutrisionis. Program ini bekerja sama dengan divisi Healthcare Nutrition (HN) Danone Indonesia, yang merupakan unit khusus yang berfokus pada ilmu gizi serta implementasi program edukasi kesehatan masyarakat berbasis bukti.
Dekan Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr dr Ivan Rizal Sini, GDRM, MMIS, FRANZCOG, SpOG menyampaikan bahwa kolaborasi ini mencerminkan komitmen IPB dalam mengembangkan pendidikan profesi agar lebih responsif terhadap tantangan kesehatan saat ini dan kebutuhan masyarakat.
“Sebagai institusi pendidikan, kami memiliki tanggung jawab menyiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu mengimplementasikan ilmunya secara nyata dan berdampak. Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB memiliki peran strategis dalam memperkuat pendekatan di mana kesehatan manusia, lingkungan, dan sistem sosial saling berkaitan dan menjadi prioritas utama,” kata Dr dr Ivan di sela penandatangan kerja sama di IPB, Bogor.
Dr dr Ivan melanjutkan, IPB menjalin kerja sama lintas sektor, termasuk dengan Danone Indonesia, untuk menghadirkan perspektif industri serta pengalaman pembelajaran yang kontekstual dan aplikatif, khususnya terkait isu krusial seperti kesehatan dan gizi. Melalui program ini, mahasiswa dapat memahami bagaimana riset dan pendekatan berbasis bukti dijalankan secara profesional di industri kesehatan.
“Kami berharap para lulusan, nantinya dapat berperan di layanan primer, mampu menjembatani teori dan implementasi di masyarakat serta menghadirkan kontribusi yang terukur bagi kesehatan publik,” lanjut Dr dr Ivan.
Program praktik kerja profesi ini akan melibatkan mahasiswa Pendidikan Profesi Nutrisionis sepanjang tahun 2026 yang dilaksanakan dalam beberapa gelombang. Selama program berlangsung, peserta tidak hanya melakukan observasi dan pendampingan profesional, tetapi juga terlibat aktif dalam penyusunan konten edukasi berbasis sains, pengembangan materi komunikasi seperti infografis, penyelenggaraan diskusi dan webinar, hingga layanan konsultasi gizi bagi karyawan dan masyarakat, termasuk ibu hamil, ibu menyusui, serta ibu dengan balita.
“Tantangan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks menuntut pendekatan yang kolaboratif dan berbasis bukti. Sebagai bagian dari komitmen global kami melalui Danone Impact Journey yang bertumpu pada pilar People, Health, dan Environment, kami percaya bahwa penguatan talenta kesehatan merupakan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas kesehatan publik,” kata Medical Science Director Danone Indonesia, Dr dr Ray Wagiu Basrowi, MKK.
Menurut Dr dr Ray, kerja sama ini membuka ruang pembelajaran aplikatif. Mahasiswa, khususnya program studi nutrisionis dapat terlibat langsung dalam riset, program screening kesehatan, serta inisiatif community development berbasis sains yang dijalankan industri.
Masalah Gizi pada Tiga Target Kelompok
Pada kesempatan yang sama, Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Nutrisionis IPB University, Prof Dr Ir Hardinsyah, MS mengatakan, IPB dan Danone akan membuat rancang bangun suatu pendidikan gizi dan konseling gizi, yang harus berbasis pada permasalahan yang dihadapi oleh target benefisian ataupun target group kelompok sasaran. Dia menilai, masing-masing target kelompok memiliki permasalahan gizi yang berbeda.
“Kita mulai dari remaja. Remaja perempuan dengan keunikannya lebih banyak masalah anemia, dan masalah citra tubuh. Kadang-kadang salah menerapkan diet, inginnya lansing akhirnya jadi lemes,” ujar Prof Hardinsyah. (sd)