Strategi Telkom Bangun Ketahanan Siber Nasional

Diskusi Strengthening Digiserve Cyber Security Services With Advanced Korean Technology


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Digiserve by Telkom Indonesia memperkuat komitmen membangun ketahanan siber nasional melalui kolaborasi strategis dengan DBM Works Solusi Indonesia, dengan menghadirkan teknologi keamanan siber unggulan asal Korea Selatan (Korsel).

Plt Presiden Direktur Digiserve Buddy Restiady menegaskan, penguatan layanan cyber security services menjadi bagian penting dari peran Digiserve dalam ekosistem Telkom Group sekaligus dalam mendukung sistem ketahanan digital nasional.

“Keamanan siber tidak lagi sekadar fungsi teknologi, tetapi sudah menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlangsungan bisnis dan stabilitas sistem digital,” tutur dia dalam acara Strengthening Digiserve Cyber Security Services With Advanced Korean Technology di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Menurut dia, Digiserve sebagai bagian dari ekosistem Telkom Group memiliki core business pada managed services yang mengelola layanan secara end to end, termasuk network dan security management. Dalam konteks ini, kolaborasi dengan mitra teknologi global menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapabilitas tersebut.

Buddy Restiady, menjelaskan, pemilihan Korsel sebagai mitra teknologi didasarkan pada tingkat kematangan cybersecurity yang tinggi. Berdasarkan Global Cybersecurity Index dari International Telecommunication Union, Korsel berada pada tier 1 atau kategori tertinggi dalam kapabilitas keamanan siber global.

Selain faktor teknologi, dia melanjutkan, kolaborasi ini mempertimbangkan aspek adaptabilitas dan efisiensi. Teknologi dari Korea dinilai lebih mudah diintegrasikan dengan ekosistem lokal, sekaligus membuka peluang transfer knowledge untuk pengembangan talenta digital Indonesia. Dari sisi bisnis, kerja sama ini juga memberikan efisiensi biaya yang lebih stabil terhadap fluktuasi nilai tukar.

“Strategi kami bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu advanced technology, adaptability, dan scalability, agar solusi yang dihadirkan tidak hanya canggih, tetapi juga relevan dan berkelanjutan bagi pasar Indonesia,” jelas dia.

Sementara itu, VP IT, Product & Partnership Digiserve Edi Nopian Mulia menyoroti tingginya ancaman siber di kawasan. Mengacu pada data Trend Micro, sebanyak 52% serangan ransomware global terjadi di Asia Tenggara, dengan sekitar 40% di antaranya menargetkan Indonesia.

Di dalam negeri, data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat, 3,5 miliar lebih anomali trafik sepanjang 2025 yang menyasar berbagai sektor, mulai dari IoT, OT, hingga sistem pembayaran digital.

“Transformasi digital yang semakin masif, termasuk adopsi cloud dan pola kerja fleksibel, telah memperluas attack surface secara signifikan. Di sisi lain, kompleksitas tools keamanan juga meningkat, sementara ketersediaan talenta masih terbatas,” ujar Edi.

Dia menambahkan, Indonesia diperkirakan mengalami kekurangan hingga 600 ribu sampai 1,5 juta tenaga profesional cybersecurity dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan pendekatan layanan berbasis managed services yang lebih komprehensif.

Di sisi lain, kompleksitas penggunaan tools juga menjadi tantangan tersendiri, di mana organisasi rata-rata menggunakan 10–20 tools keamanan (hingga 60–130 pada skala besar), yang berpotensi menimbulkan fragmentasi sistem keamanan. (ym)

Labels: IPTEK

Thanks for reading Strategi Telkom Bangun Ketahanan Siber Nasional. Please share...!

Back To Top