AI Beralih dari 'Tahu' ke 'Melakukan': Era Physical AI yang Akan Mengubah Industri

Steven Fong, Corporate Vice President AMD untuk bisnis Embedded di kawasan Asia-Pasifik dan Jepang


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Kecerdasan buatan sedang memasuki fase baru yang jauh lebih ambisius. Setelah beberapa tahun didominasi oleh chatbot, asisten virtual, dan model bahasa besar yang membantu kita mencari informasi, merangkum teks, atau menulis konten, AI kini dituntut untuk “turun ke dunia nyata”.

Bukan lagi sekadar paham dan merekomendasikan. AI harus mampu merasakan, memutuskan, dan bertindak secara langsung di lingkungan fisik.

Inilah yang disebut Physical AI — dan menurut Steven Fong, Corporate Vice President AMD untuk bisnis Embedded di kawasan Asia-Pasifik dan Jepang, transisi inilah yang akan menentukan dekade AI berikutnya.

Dari Cloud ke Lantai Pabrik

Selama ini AI hidup di cloud: nyaman, fleksibel, dan bisa menoleransi sedikit keterlambatan. Tapi robot di pabrik, mobil otonom di jalan raya, atau sistem medis yang membantu dokter di ruang operasi tidak punya kemewahan itu.

Sistem-sistem tersebut harus:

  • Merespons secara real-time
  • Berperilaku deterministik (bisa diprediksi dan diandalkan)
  • Memenuhi standar functional safety
  • Bekerja dalam batasan daya, panas, dan ruang yang ketat
  • Tetap berfungsi meski koneksi internet terputus

“Kecerdasan hanya bernilai jika sistem bisa bertindak dalam batas waktu yang ditentukan,” tulis Fong. Keberhasilan Physical AI tidak lagi diukur dari seberapa pintar modelnya, melainkan seberapa aman dan andal sistemnya bertindak di dunia nyata.

Tak Ada Satu Prosesor yang Bisa Melakukan Semuanya

Fong membandingkan Physical AI dengan tubuh manusia. Otak manusia melakukan penalaran kompleks. Sistem saraf memberikan respons cepat. Otot dan sendi menjalankan gerakan presisi.

Sistem AI fisik bekerja dengan cara serupa. Karena itu, tidak ada satu jenis prosesor yang cukup. Dibutuhkan komputasi heterogen:

  • CPU dan GPU berkinerja tinggi berperan sebagai “otak” — menangani persepsi dan penalaran kompleks.
  • NPU dan Adaptive SoC berfungsi seperti sistem saraf — memproses data dengan latensi rendah dan hemat daya.
  • FPGA mendukung kontrol sensor dan aktuator secara akurat dan deterministik.

AMD mengklaim memiliki portofolio paling lengkap di industri untuk kebutuhan ini: CPU, GPU, NPU, Adaptive SoC, hingga FPGA. Pengalaman panjang perusahaan di sektor otomotif, industri, kesehatan, dan kedirgantaraan juga dinilai menjadi modal penting, karena Physical AI menuntut keandalan, siklus hidup produk yang panjang, dan kemampuan bekerja di lingkungan ekstrem.

Relevansi Besar bagi Indonesia

Pergeseran ini sangat relevan bagi negara-negara dengan basis manufaktur kuat dan tantangan demografi, termasuk Indonesia. Populasi yang menua, persaingan tenaga kerja yang semakin ketat, dan kebutuhan meningkatkan produktivitas industri membuat otomasi, robotika, dan infrastruktur cerdas bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis.

Physical AI tidak akan menyelesaikan semua tantangan sendirian. Namun, dengan memungkinkan mesin cerdas berinteraksi secara aman dengan dunia fisik, teknologi ini berpotensi mengubah cara pabrik beroperasi, cara kendaraan bergerak, dan cara layanan kesehatan diberikan.

“Era pertama AI ditentukan oleh sistem yang bisa memahami informasi,” kata Fong. “Era berikutnya akan ditentukan oleh sistem yang bisa merasakan, memutuskan, dan bertindak secara aman di dunia fisik.”

Dari sekadar “tahu” menjadi “melakukan”. Itulah loncatan yang sedang berlangsung — dan dampaknya diperkirakan akan terasa jauh lebih nyata di kehidupan sehari-hari kita dalam sepuluh tahun ke depan. (red/dri)

Labels: IPTEK

Thanks for reading AI Beralih dari 'Tahu' ke 'Melakukan': Era Physical AI yang Akan Mengubah Industri. Please share...!

Back To Top