Hitachi Vantara HCP Diakui Gartner 2018 Critical Capabilities untuk Penyimpanan Objek




JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Hitachi Vantara, anak perusahaan Hitachi Ltd. (TSE: 6501), hari ini mengumumkan Hitachi Vantara HCP (Hitachi Content Platform) telah diakui oleh Gartner 2018 Critical Capabilities untuk penyimpanan objek, yang dipublikasikan pada 25 Januari 2018.

Penyimpanan objek sangat diminati untuk menjadi jembatan antara penyimpanan tradisional (traditional storage) dan teknologi cloud yang sedang berkembang guna mendapatkan nilai-nilai terbaik dari data-data perusahaan, dimanapun data tersebut berada. Penyimpanan objek menarik minat dan investasi dari para ahli infrastruktur dan operasi karena kemampuannya mengelola data dalam sistem dengan menggunakan pendekatan terintegrasi.

Dalam laporan tersebut, para analis Gartner yaitu Raj Bala, John McArthur, dan Garth Lander, menuliskan evaluasi mereka terhadap 13 produk object storage berdasarkan delapan kemampuan penting: kapasitas, interoperabilitas, pengelolaan, kinerja, keamanan, multitenancy, efesiensi objek, dan pricing. Para analis tersebut juga menuliskan evaluasinya terhadap produk-produk penyimpanan objek berdasarkan lima kasus penggunaan: analytics, pengarsipan, melakukan backup, distirbusi, dan penyimpanan cloud.

Dibandingkan dengan literasi laporan sebelumnya, skor untuk Hitachi Vantara HCP telah meningkat di dalam lima kasus penggunaan.

Hitachi yakin telah meningkat di dalam:

  • Hitachi Content Platform unggul dalam ekosistem solusi yang menyediakan penyimpanan objek cloud cerdas yang memanfaatkan layanan peyimpanan private, hybrid ataru public cloud. Ini termasuk kemampuan untuk mendukung beragam beban kerja, waktu reaksi yang lebih cepat, dan fleksibilitas untuk menyimpan dan memindahkan data ke beberapa layanan public cloud. HCP melakukan semua ini dan mengurangi total biaya kepemilikan (TCO) dan meningkatkan kapasitas penyimpanan yang efektif.
  • Penanganan aplikasi data yang besar bisa memakan waktu lama, namun HCP menawarkan solusi pencarian dan analytics terpadu untuk mengungkap peluang baru dan wawasan data analytics. Analytics membantu organisasi memanfaatkan nilai datanya, menambah wawasan baru dan mempercepat hasil. Akibatnya, produktivitas dan kinerja meningkat.
  • HCP memiliki fitur pendorong kinerja tertentu, seperti multipart file transfer yang ditingkatkan untuk pengunggahan file besar yang lebih cepat, penyelesaian konflik berbagi konten yang lebih mudah, dan peningkatan migrasi file secara universal. Peningkatan kinerja sangat penting bagi layanan penyimpanan objek yang berpengaruh agar bisa bereaksi lebih cepat agar bisa berubah dan mengoptimalkan biaya.
  • Dengan kemampuan built-in, HCP membantu meningkatkan kapasitas penyimpanan yang efektif dengan mengizinkan pelanggan mengganti penyimpanan utama mereka dengan lancar, memberikan kemudahan penggunaan untuk mengunduh dan mengunggah, serta mampu memantau dan mengendalikan peningkatan pertumbuhan data.

“Kami percaya bahwa posisi HCP pada Gartner Critical capabilities for Object Storage tahun ini memperlihatkan kekuatan kami serta melanjutkan investasi dan inovasi di dalam portfolio HCP,” ujar Brad Surak, Chief Product and Strategy Officer, Hitachi Vantara. “Para pelanggan berpaling kepada kami untuk mengumpulkan, menyimpan, menjaga, serta menganalisa data mereka, sehingga mereka dapat membuat keputusan dengan lebih banyak informasi dan lebih cepat. Kami merasa wajar apabila portofolio HCP kami adalah solusi penyimpanan TI untuk ribuan perusahaan di seluruh dunia,” tutupnya. (red/dri)

Hitachi Vantara Umumkan Pergantian Jajaran Direksi

(Kiri) Brian Householder, (Kanan) Ryuichi Otsuki, dan (bawah) Scott Kelly


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Hitachi Vantara, anak perusahaan Hitachi Ltd. (TSE: 6501) , hari ini mengumumkan dua kenaikan pangkat di jajaran direksinya:  Brian Householder  dipromosikan menjadi Chief Executive Officer dan Scott Kelly dipromosikan menjadi Chief Operating Officer. Keduanya akan memulai jabatan baru mereka tanggal  1 April 2018 nanti.

Ryuichi Otsuki, CEO Hitachi Vantara saat ini, akan meninggalkan jabatan lamanya untuk memegang peranan yang lebih luas bagi Hitachi, Ltd. sebagai Deputy General Manager Hitachi Corporate Sales & Marketing Group dan Chairman of Hitachi Global Digital Holdings, perusahaan holding milik Hitachi Vantara, oXya, dan Hitachi Consulting. Otsuki juga akan menjabat sebagai Chairman of Hitachi Americas, dan akan terus tinggal di Santa Clara, California.

"Saya sangat bangga mengumumkan promosi Brian dan Scott, dua sosok yang kritis dan sukses di dalam tim kepemimpinan kami,” ujar Otsuki. “Hitachi Vantara telah mendemonstrasikan performa yang kuat sebagai mitra utama untuk menyampaikan nilai yang terbandingi  kepada perusahaan-perusahaan melalui data. Saya tidak sabar  untuk terus bekerja bersama Brian dan Scott dalam posisi baru mereka dalam masa-masa penting pertumbuhan perusahaan,” tambahnya.

Sebelum diangkat sebagai Chief Executive Officer, Brian menjabat sebagai Presiden dan Chief Operating Officer Hitachi Vantara, di mana dia bertanggung jawab atas kegiatan operasional sehari-hari perusahaan untuk manajemen produk, penjualan, layanan, dukungan, pemasaran, pengembangan bisnis, pengembangan mitra, keuangan, hukum, TI, logistik, operasi bisnis dan perencanaan.

Selain berperan sebagai Chief Operating Officer pada bulan April, Kelly akan terus menjabat sebagai Chief Transformation Officer Hitachi Vantara,  memimpin inisiatif perusahaan dalam mendorong strategi pertumbuhan globalnya. Sebelum dipromosikan, Kelly juga menjabat sebagai Chief Human Resources Officer di mana dia bertanggung jawab atas semua aspek sumber daya manusia di Hitachi Vantara, termasuk sistem informasi SDM, perencanaan tenaga kerja dan kepegawaian, kompensasi total, manajemen kinerja, pengembangan manajemen, perencanaan suksesi kepemimpinan, keragaman dan advokasi, kepatuhan hukum SDM, pengembangan organisasi dan konsultasi dukungan manajemen. (red/dri)


Hitachi Vantara Tunjuk Robert Kayatoe Sebagai Managing Director untuk Indonesia

Robert Kayatoe, Managing Director Indonesia, Hitachi Vantara

JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Hitachi Vantara, anak perusahaan Hitachi, Ltd. (TSE:6501), hari ini mengumumkan penunjukan Robert kayatoe sebagai Managing Director di Indonesia. Penunjukan ini mendukung komitmen perusahaan untuk menyediakan fokus yang lebih besar, mendukung para pelanggan dan mitra Hitachi Vantara di Indonesia, serta melaksanakan tujuan pertumbuhan dalam memperluas pangsa pasar di Indonesia.

Berbasis di Jakarta, Indonesia, Robert bertanggung jawab untuk mengawasi operasi bisnis, termasuk penjualan, pemasaran dan layanan, dan bekerja secara aktif dengan mitra Hitachi Vantara untuk meningkatkan channel strategy, meningkatkan cakupan, serta memperluas jangkauan Hitachi Vantara. Robert akan melapor langsung ke Joe Ong, Wakil Presiden dan General Manager Hitachi Vantara ASEAN.

"Robert memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dalam penjualan, saluran, kepemimpinan dan pengelolaan bisnis yang sukses di Indonesia, dari aspek infrastruktur dan juga software. Bersama dengan mitra-mitra kami di Indonesia, Hitachi Vantara menantikan kepemimpinan Robert dan visi strategis untuk membawa bisnis ke tingkat momentum dan kesuksesan berikutnya, " kata Joe.

Robert menambahkan, "Saya sangat bersemangat dengan kesempatan baru ini dan berharap dapat bekerja sama dengan pelanggan kami dan menyalurkan ekosistem ​​untuk membantu menumbuhkan kehadiran perusahaan di Indonesia dan membantu mereka berinovasi dengan informasi untuk membuat perbedaan di dunia". (red/dri)


Bersiap Hadapi Tren IT 2018 Bersama Hitachi Vantara

Vice President of Product Marketing for Internet of Things and Analytics Hitachi Vantara, John Magee (kiri) Managing Director Indonesia, Hitachi Vantara, Robert Kayatoe (tengah) dan Chief Technology Officer (CTO), Hitachi Vantara APAC, Russell Skingsley (kanan)


JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Hitachi Vantara, anak perusahaan Hitachi, Ltd. (TSE:6501) hari ini  menggelar acara Hitachi Advantage Roadshow di Ayana MidPlaza Hotel, Jakarta. Di acara kali ini, Hitachi Vantara  mengundang para manajer di bidang teknologi informasi dari beragam perusahaan and industri. Acara tersebut diselenggarakan untuk memberikan edukasi kepada para manajer yang hadir dalam mendorong transformasi digital perusahaannya.

Sebelumnya, Chief Technology Officer (CTO) Hitachi Vantara, Hubert Yoshida bersama CTO Hitachi Vantara untuk kawasan Asia Pasifik, Russell Skingsley, telah merilis prediksi tren teknologi yang akan terjadi ditahun 2018 untuk membantu para pebisnis dan eksekutif perusahaan dalam mempersiapkan diri menghadapi tantangan yang ada di depan mata.

Menurut Yoshida dan Skingsley, adopsi platform Internet of Things (IoT) menjadi salah satu kunci terpenting bagi perusahaan agar mampu bersaing di era digital. Pasalnya, solusi IoT mampu mempercepat transformasi digital perusahaan.

"Membangun solusi IoT yang memberikan nilai nyata bisa menjadi sulit tanpa arsitektur dasar yang tepat dan pemahaman yang mendalam tentang bisnis untuk mensimulasikan dan mendigitalkan entitas dan proses operasional dengan benar. Di sinilah pilihan platform IoT dan pilihan penyedia layanan yang berpengalaman merupakan hal penting," ujar Yoshida.

"Perusahaan harus mencari platform IoT yang menawarkan arsitektur terbuka dan fleksibel yang menyederhanakan integrasi dengan teknologi gratis dan menyediakan fasilitas "pengecoran" yang dapat diperluas untuk membangun berbagai aplikasi industri yang perlu didesain, dibangun, diuji, dan diterapkan dengan cepat oleh perusahaan dengan tingkat kerumitan minimum," tambah Skingsley.

Dalam kesempatan ini, Hitachi Vantara juga memperkenalkan solusi terbarunya, platform IoT Lumada. Dibangun di atas pengalaman andal Hitachi di bidang OT dan IT selama 107 tahun, Lumada siap memberikan pengalaman manajemen data yang fleksibel, dan dapat diakses di mana saja dan kapan saja melalui kemampuannya untuk menyajikan perubahan data dalam sebuah organisasi secara live.

Selain IoT, teknologi object storage juga akan menjadi tren di tahun 2018, mengingat kemampuan mengakses data selalu menjadi masalah yang pertama kali dihadapi perusahaan saat memulai transformasi digital mereka.

"Ilmuwan data mengatakan kepada kita bahwa 80% dari pekerjaan yang terlibat dalam memperoleh wawasan analitis dari data adalah pekerjaan yang membosankan untuk memperoleh dan mempersiapkan data. Konsep danau data (data lake) memikat, tapi Anda tidak bisa hanya menuangkan data Anda ke dalam satu sistem, kecuali data itu benar dibersihkan, diformat dan diindeks atau diberi tag dengan metadata sehingga danau data akan sadar konten. Kalau tidak, Anda berakhir dengan rawa data (data swamp)," komentar Skingsley.

Solusi object storage yang memiliki kecerdasan mencari dan membaca konten di dalam silo data dan menganalisisnya untuk pembersihan, pengaturan ulang, dan pengindeksan seperti solusi Hitachi Content Intelligence akan sangat vital untuk diimplementasikan oleh perusahaan agar tidak terhambat masalah pengaksesan data.

"Hitachi Content Intelligence dapat mengekstrak data dari silo dan memompanya menjadi alur kerja untuk memprosesnya dengan berbagai cara. Pengguna Content Intelligence dapat diberi wewenang sehingga konten sensitif hanya dilihat oleh orang yang berkepentingan dan kontrol keamanan dokumen tidak dilanggar. Content Intelligence dapat menciptakan proses pencarian perusahaan standar dan konsisten di seluruh lingkungan TI. Ini dapat menghubungkan dan menggabungkan data multi-terstruktur di silo data heterogen dan lokasi yang berbeda dan menyediakan ekstraksi otomatis, klasifikasi, pengayaan dan kategorisasi semua data organisasi," kata Skingsley.

Teknologi Artificial Intelligence (AI) juga akan bertumbuh dengan pesat di semua sektor industri pada tahun 2018 karena para pemimpin perusahaan telah menyadari keuntungan nyata ketika berinvestasi terhadap AI.

"AI menjadi mainstream dengan produk konsumen seperti Amazon Alexa dan Apple Siri, dan Hitachi percaya bahwa ini adalah kolaborasi AI dan manusia yang akan membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui alat seperti Pentaho Data Integration, tujuan kami adalah untuk mendemokratisasikan teknik data dan proses sains data untuk membuat Machine Intelligence - kombinasi antara Machine Learning dan AI - lebih mudah diakses oleh pengembang dan insinyur yang lebih beragam," kata Skingsley.

Kematangan Proyek Blockchain dan Otentikasi Biometrik

Di tahun 2018, proyek blockchain juga diprediksi akan lebih matang karena dua alasan, yakni peningkatan cryptocurrencies sebagai mata uang stabil di berbagai negara dan meningkatnya penggunaan blockchain di sektor keuangan. Transfer dana antar bank melalui buku besar blockchain juga diperkirakan akan meningkat pada 2018, dan sektor lainnya akan mulai melihat prototipe dengan kontrak cerdas dan layanan identitas untuk perawatan kesehatan, pemerintahan, keamanan pangan dan barang palsu.

Meningkatnya jumlah password yang dibutuhkan oleh konsumen saat ini juga akan mendukung pergeseran menuju otentikasi biometrik pada tahun 2018.

"Pada kenyataannya, kebanyakan dari kita menggunakan kata kunci yang sama untuk akun yang menurut kita tidak penting. Sayangnya, hacker juga mengetahui hal ini, jadi begitu mereka menemukan kata kunci, mereka akan menggunakannya untuk  meretas akun lainnya. Bisnis mulai menyadari bahwa proxy yang mewakili identitas, kartu ATM, dan nomor PIN kita - bahkan dengan autentikasi dua faktor, bisa di-hack," kata Skingsley.

"Vendor smartphone dan perusahaan keuangan bergerak untuk memecahkan masalah ini dengan menggunakan biometrik yang mewakili pengguna sebenarnya. Tapi memilih biometrik yang tepat itu penting. Jika biometrik seperti sidik jari diretas, tidak ada cara untuk mengatur ulang dengan cara yang sama seperti nomor PIN atau kata sandi Anda. Karena kita meninggalkan sidik jari kita pada semua hal yang kita sentuh, mungkin seseorang bisa mengangkat cetakan dan menggunakannya kembali. Hitachi merekomendasikan penggunaan vena jari, yang hanya bisa dilihat saat cahaya inframerah dilewatkan melalui jari langsung untuk menangkap pola vena dan paling tahan terhadap pemalsuan," tambahnya.

Selain kelima hal diatas, Yoshida dan Skingsley juga memprediksi beberapa tren teknologi lain yang juga akan menguasai pasar teknologi Asia Pasifik di tahun 2018, antara lain adopsi Video Analytics, metodologi agile, tata kelola data 2.0, generasi baru mesin virtual, serta kolaborasi nilai antar pelanggan dan ekosistem untuk berinovasi dan menciptakan nilai baru untuk para stakeholder bisnis. (red/dri)


Survey: 87% Perusahaan di Asia Pasifik Yakin Teknologi IoT Penting Bagi Masa Depan Bisnisnya



JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Internet of Things (IoT) telah digadang-gadang sebagai pondasi untuk berbagai terobosan dalam artificial intelligence (AI), robotik, dan potensi berbagai kemajuan lain yang berpotensi luas serta dapat diterapkan. Namun bagi para pengambil keputusan di garis depan – para eksekutif yang dituntut untuk mengimplementasikan IoT dalam perusahaan mereka - Terkadang terasa mustahil untuk memisahkan fakta dari tren. Bahkan lebih menakutkan lagi untuk mengetahui langkah-langkah praktis yang diperlukan untuk memulai IoT dalam bisnis mereka.

Untuk memahami lebih dalam mengenai situasi terkini dari IoT, Forbes Insight bekerja sama dengan Hitachi Vantara untuk melakukan survei kepada lebih dari eksekutif senior di seluruh dunia, termasuk 220 orang dari kawasan Asia Pasifik yang memimpin inisiatif IoT di dalam perusahaan mereka. Sebuah laporan terkini, “Internet of things: Dari Teori kepada Realita - Bagaimana Perusahaan Memanfaatkan IoT untuk Memajukan Bisnis," yang disponsori oleh Hitachi Vantara, menyoroti temuan utama dari penelitian ini dan membahas isu-isu berikut ini:
  • Apakah IoT masih merupakan aspirasi atau telah menjadi kenyataan operasional?
  • Bagaimana IoT digunakan dalam perusahaan?
  • Seperti apa implementasi IoT pada tahap awal ini?
  • Adakah perusahaan yang lebih maju dengan menggunakan teknologi ini?
  • Apa pelajaran pelaksanaan yang dipelajari?
  • Apa langkah praktis yang bisa dilakukan perusahaan saat mereka memulai perjalanan IoT mereka sendiri?
“Di seluruh kawasan Asia Pasifik, terlihat jelas bahwa para eksekutif menyadari nilai dari inisiatif IoT,” kata Bruce Rogers, Chief Insights Officer (CIO) Forbes Media. “Dengan 70 persen dari mereka yang menyatakan telah mempertimbangkan IoT sebagai sesuatu yang penting atau krusial bagi bisnis mereka, IoT dengan cepat menjadi pembeda kompetitif yang akan mempengaruhi hampir setiap industry, " tambahnya.

Temuan utama untuk Asia Pasifik:

  • Dampak kepada bisnis: 70% perusahaan di wilayah ini percaya bahwa IoT penting atau sangat penting bagi bisnis mereka saat ini, dan 87% percaya bahwa IoT akan menjadi penting bagi masa depan bisnis mereka.
  • IoT adalah salah satu teknologi baru yang paling penting: Dari semua teknologi yang muncul, para eksekutif di Asia Pasifik percaya bahwa IoT, Artificial Intelligence (AI) dan Robotika akan menjadi yang terpenting.
  • Perusahaan di wilayah tersebut menyambut IoT: 72% responden mengatakan bahwa perusahaan mereka memiliki program IoT yang signifikan atau pilot yang beroperasi, dan 11% mengatakan bahwa program IoT telah memberikan kontribusi besar dalam bisnis mereka.
  • Mengimplementasikan solusi berbasis IoT dapat menjadi tantangan: Ketika membangun kemampuan IoT, perusahaan mengatakan tantangan terbesar mereka adalah:

  1. Menjaga keamanan IoT (31%)
  2. Kerjasama antar departemen (31%)
  3. Ketersediaan tenaga terampil (31%)
  4. Ketidakmampuan menyampaikan pengembalian investasi yang menarik (30%)
  5. Integrasi data yang berbeda (28%)

  • Praktik terbaik untuk menerapkan solusi berbasis IoT: Dengan memeriksa perusahaan dengan inisiatif IoT yang memenuhi atau melampaui harapan, kami telah mengidentifikasi beberapa praktik yang mereka ikuti untuk memastikan kesuksesan:

  1. Upaya IoT biasanya diperjuangkan oleh CTO (40%) dan CIO (32%)
  2. Memasukan 42% vendor eksternal kedalam tim perencanaan IoT mereka
  3. Penggunaan platform pihak ketiga sebesar 82% sebagai dasar untuk operasi IoT mereka

  • Di Asia Pasifik, Perusahaan sudah melihat keuntungan dari IoT: 76% menjalankan program IoT yang menghasilkan pendapatan sementara 60% setuju bahwa program IoT menghasilkan data yang sangat berguna untuk bisnis mereka. Akibatnya, 88% memperkirakan akan melihat kenaikan anggaran IO mereka selama tahun fiskal yang akan datang.

"Temuan survei Forbes Insights dengan jelas menunjukkan dampak yang dimiliki IoT terhadap bisnis di wilayah APAC. Kami ingin melihat bahwa sebagian besar bisnis telah melihat IoT sebagai kunci kesuksesan masa depan mereka," kata Daniel Chong, wakil presiden senior Asia Pasifik di Hitachi Vantara. "Kesamaan dari organisasi-organisasi bisnis di seluruh dunia adalah kebutuhan mendapatkan dukungan top-down pada masa awal inisiatif mereka dan menemukan mitra inovasi tepercaya yang membantu mereka mencapai hasil bisnis yang diinginkan," tutupnya. (red/dri)


Back To Top