![]() |
| Para pelaku social entreprise pemenang dana hibah DBS Foundation Grant Program 2025 |
JAKARTA (IndonesiaTerkini.com)- Bisnis tak hanya mengutamakan profit, namun juga bisa berdampak pada kehidupan sosial masyarakat. Begitu juga sebaliknya, misi sosial juga bisa berdampak menghasilkan profit untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini yang dilakukan para pelaku social entreprise dan bisnis berdampak sosial dengan sejumlah usahanya yang unik hingga berhasil memenangkan dana hibah DBS Foundation Grant Program 2025 sebesar Rp11,2 miliar.
Salah satu pelaku social entreprise yang sangat inspiratif adalah Rendy Aditya Wachid, pendiri Parongpong Raw Lab. Misi Rendy membuat bahan bangunan dan perhiasan dari jala (jaring) bekas berdampak pada pengurangan sampah jala di laut dan membantu ekonomi nelayan. Rendy pun akhirnya memenangkan dana hibah DBS Foundation Grant Program 2025.
“Saya melihat sampah di laut itu tidak hanya plastic seperti sedotan, tetapi yang terbanyak adalah puntung rokok, kemudian jala bekas nelayan itu juga banyak. Ada sekitar 50 ribu ton sampah jala laut per tahun di seluruh Indonesia,” ungkap Rendy.
Rendy yang seorang arsitek akhirnya terpikir untuk mengolah jala bekas itu menjadi bahan pengganti untuk bangunan. “Jala bekas itu bisa dibikin wall panel (dinding), ceiling (plafon), dan lantai keramik,” jelas Rendy.
Untuk satu rumah, lumayan bisa menyerap cukup banyak sampah jala. “Satu rumah bisa menyerap 1-2 ton sampah jala untuk panel wall, ceiling, dan lantai keramik,” kata Rendy yang segera akan menerapkan bahan bangunan dari jala bekas ini pada perumahan yang tengah digarapnya.
Jala bekas ini, kata Rendy, juga dibikin perhiasan seperti kalung dan gelang. “Kami bikin Jalawerly dan diluncurkan di Paris Fashion Week 2025 dan berhasil menggaet 62 calon buyer,” ungkap Rendy yang siap memproduksi bahan bangunan dan perhiasan dari jala dengan pendanaan dari hibah DBS Foundation ini.
Selama dua tahun menggarap jala bekas di kamunitas nelayan di Cilincing dan Banyuwangi, Rendy mengungkap sudah menghasilkan ekonomi sebesar US$550 ribu. “Sampah jala yang tadinya bernilai nol kini menjadi berharga dan membantu ekonomi nelayan. Selain itu juga meningkatkan awarness bahwa menjadi nelayan tidak harus mengotori laut," ujar Rendy. (sd)
Thanks for reading Kisah Para Pelaku Social Enterprise Menangkan Dana Hibah Rp11,2 Miliar. Please share...!
